<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Riset &#8211; STIKes Dharma Husada</title>
	<atom:link href="https://stikesdhb.ac.id/category/riset/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://stikesdhb.ac.id</link>
	<description>Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Mar 2021 10:11:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/cropped-Logo-32x32.gif</url>
	<title>Riset &#8211; STIKes Dharma Husada</title>
	<link>https://stikesdhb.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SUKSES MENYUSUN TUGAS AKHIR</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/sukses-menyusun-tugas-akhir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2021 10:11:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>
		<category><![CDATA[Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[D3 Refraksi Optisi]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[S1 Kesehatan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[STIKes DHB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=7734</guid>

					<description><![CDATA[Bandung, 27 Februari 2021 Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Dharma Husada Bandung menyelenggarakan seminar dengan tema &#8220;Sukes Menyusun Tugas Akhir&#8221; yang diperuntukkan untuk mahasiswa tingkat akhir…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bandung, 27 Februari 2021 Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Dharma Husada Bandung menyelenggarakan seminar dengan tema &#8220;Sukes Menyusun Tugas Akhir&#8221; yang diperuntukkan untuk mahasiswa tingkat akhir yang sedang menghadapi karya tulis ilmiah atau tugas akhir.</p>
<p>Seminar ini setidaknya menjadi gambaran bagi mahasiswa tingkat akhir agar tidak berlama-lama dalam menyelesaikan tugas akhir, ini juga menjadi bagian dan kegiatan pengabdian dosen STIIKes Dharma Husada Bandung dalam memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi, pembicara sendiri meliputi Dr. Siti Sugih H.,S.Si.,M.Kes kemudian ada Dr. Suparni, ST.,M.K.K.K serta Dr. Yeni MAhwati, M.KM yang merupaka dosen di program studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat.</p>
<p>Materi yang dipaparkan tidak hanya berupa materi tentang metodologi penelitian serta pendekatan penelitian sesuai dengan tema yang akan diambil oleh peneliti namun juga pembicara memberikan tips dan trik bagaimana menghadapi tekanan dan tuntutat tuigas akhir agar tidak berlarut-larut dalam mengerjakan serta tidak menjadi stress.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SEMINAR NASIONAL &#8220;INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL&#8221;</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/seminar-nasional-intervensi-kesehatan-berbasis-budaya-lokal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2016 02:10:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[STIKes DHB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.stikesdhb.ac.id/?p=1738</guid>

					<description><![CDATA[Minggu pertama bulan februari 2016 menjadi minggu yang tersibuk, bagaimana tidak setelah melaksanakan kegiatan kuliah umum yang di selenggarakan program studi D3 Keperawatan tentang Keperawatan Spiritual, dilanjutkan dengan…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Minggu pertama bulan februari 2016 menjadi minggu yang tersibuk, bagaimana tidak setelah melaksanakan kegiatan kuliah umum yang di selenggarakan program studi D3 Keperawatan tentang Keperawatan Spiritual, dilanjutkan dengan pelaksanaan Seminar Nasional dengan tema &#8220;Upaya Penyelamatan Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Budaya Lokal di Jawa Barat&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan yang dilaksanakan pada hari sabtu, 06 februari 2016 di Gedung Wahana Bhakti Pos dihadiri oleh kurang lebih 500 orang peserta dengan mendatangkan berbagai pembicara yang tentunya kompeten dibidangnya, diantaranya : Prof. dr. Agus Suwandono, MPH.,Dr. dari Litbangkes Kemenkes RI dengan materi Riset Khusus Budaya Kesehatan, selanjutnya dr.Hj. Alma Lucyati, M.Kes.,M.Si.,M.H.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyampaikan materi tentang Kebijakan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Provinsi Jawa Barat (SDG&#8217;s), pembicara selanjutnya dari Paguyuban Pasundan tentang Kebudayaan Lokal dengan Judul Hidup Waras di Tatar Sunda, disamping itu ada pula pembicara dari internal kampus STIKes Dharma Husada yaitu : Ibu Dr. Hj. Suryani Soepardan, Dra.,MM yang menyampaikan materi tentang Peran Tenaga Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan Ibu dan Anak, Ibu Siti Sugih Hartiningsih, S.Si.,M.Kes tentang Usik Wiwitan pada Ibu Hamil sebagai salah satu Budaya Lokal di Jawa Barat, dan terakhir dari Ibu Asri Handayani, M.Kep menyampaikan materi tentang <em>Holistic Care and Transcultural in West Java.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan ini sendiri merupakan salah satu program STIKes Dharma Husada Bandung dalam upaya meningkatkan keterlibatan dunia pendidikan dan kampus dalam setiap program pemerintah, dan sekaligus mengangkat kearifan budaya lokal.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/Seminar-Intervensi-Kesehatan-Berbasis-Budaya.zip" rel="">Seminar Intervensi Kesehatan Berbasis Budaya</a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG-20160206-WA0000.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="SEMINAR NASIONAL &quot;INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL&quot;" rel="attachment wp-att-1736"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1736" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG-20160206-WA0000-150x150.jpg" alt="IMG 20160206 WA0000 150x150 SEMINAR NASIONAL INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG-20160206-WA0000-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG-20160206-WA0000-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG-20160206-WA0000-128x128.jpg 128w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/IMG-20160206-WA0000-30x30.jpg 30w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="SEMINAR NASIONAL INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0765.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="SEMINAR NASIONAL &quot;INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL&quot;" rel="attachment wp-att-1733"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1733" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0765-150x150.jpg" alt="DSC 0765 150x150 SEMINAR NASIONAL INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0765-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0765-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0765-128x128.jpg 128w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0765-30x30.jpg 30w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="SEMINAR NASIONAL INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0767.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="SEMINAR NASIONAL &quot;INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL&quot;" rel="attachment wp-att-1735"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1735" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0767-150x150.jpg" alt="DSC 0767 150x150 SEMINAR NASIONAL INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0767-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0767-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0767-128x128.jpg 128w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/DSC_0767-30x30.jpg 30w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="SEMINAR NASIONAL INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS BUDAYA LOKAL" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/300-orang-mengikuti-test-gelombang-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2015 09:16:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[STIKes DHB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.stikesdhb.ac.id/?p=1180</guid>

					<description><![CDATA[Sabtu, 06 Juni 2015 Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru STIKes Dharma Husada Bandung melaksanakan kegiatan seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2015/2016 gelombang kedua, kegiatan ini sendiri merupakan upaya…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sabtu, 06 Juni 2015 Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru STIKes Dharma Husada Bandung melaksanakan kegiatan seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2015/2016 gelombang kedua, kegiatan ini sendiri merupakan upaya untuk menyeleksi para calon mahasiswa yang mempunyai kompetensi yang cukup untuk menempuh pendidikan kesehatan di STIKes Dharma Husada Bandung. Tingginya animo dan minat calon mahasiswa membuat proses seleksi gelombang 2 dimajukan yang seharusnya tanggal 20 Juni 2015 menjadi 06 Juni 2015.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0048.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1181" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0048-150x150.jpg" alt="DSC 0048 150x150 300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2 STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0048-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0048-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0048-128x128.jpg 128w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0064.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1183" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0064-150x150.jpg" alt="DSC 0064 150x150 300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2 STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0064-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0064-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0064-128x128.jpg 128w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0084.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1184" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0084-150x150.jpg" alt="DSC 0084 150x150 300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2 STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0084-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0084-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0084-128x128.jpg 128w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0086.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1185" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0086-150x150.jpg" alt="DSC 0086 150x150 300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2 STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0086-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0086-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0086-128x128.jpg 128w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0089.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1186" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0089-150x150.jpg" alt="DSC 0089 150x150 300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2 STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0089-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0089-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0089-128x128.jpg 128w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2" /></a> <a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0052.jpg" class="lightbox fancybox" data-title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1187" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0052-150x150.jpg" alt="DSC 0052 150x150 300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2 STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0052-150x150.jpg 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0052-64x64.jpg 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/DSC_0052-128x128.jpg 128w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="300 ORANG MENGIKUTI TEST GELOMBANG 2" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PENGARUH KOMBINASI SENAM HAMIL DAN SENI USIK WIWITAN TERHADAP KESEHATAN IBU HAMIL TRIMESTER III DI KOTA BANDUNG</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/pengaruh-kombinasi-senam-hamil-dan-seni-usik-wiwitan-terhadap-kesehatan-ibu-hamil-trimester-iii-di-kota-bandung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 May 2015 07:06:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.stikesdhb.ac.id/?p=1148</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah kabar menggembirakan bagi civitas akademik STIKes Dharma Husada Bandung, dalam semangat pengembangan kualitas sumber daya dosen, dimana selama ini perlahan namun pasti semua dosen STIKes Dharma Husada…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah kabar menggembirakan bagi civitas akademik STIKes Dharma Husada Bandung, dalam semangat pengembangan kualitas sumber daya dosen, dimana selama ini perlahan namun pasti semua dosen STIKes Dharma Husada sudah menyandang Magister, kemudian beberapa diantaranya sudah mendapat sertifikasi dosen. Kabar terbaru adalah tim peneliti dari STIKes Dharma Husada Bandung mendapat hibad penelitian dengan tema &#8220;Riset Intervensi Kesehatan Berbasis Budaya&#8221; dengan ketua Tim Penelitian Ibu Dr. Hj. Suryani Soepardan, Dra.,MM dan anggota peneliti Siti Sugih H, S.Si, M.Kes serta Yeti Hernawati, S.ST, M.Keb</p>
<p style="text-align: justify;">PENGARUH KOMBINASI SENAM HAMIL DAN SENI USIK WIWITAN</p>
<p style="text-align: justify;">TERHADAP KESEHATAN IBU HAMIL TRIMESTER III DI KOTA BANDUNG</p>
<p style="text-align: justify;">Dr. Hj. Suryani S., Dipl.M, MM; Siti Sugih H, S.Si, M.Kes; Yeti Hernawati, S.ST, M.Keb</p>
<p style="text-align: justify;">Kesehatan fisik dan psikis ibu sangat menentukan terjadinya persalinan yang aman dan tidak beresiko. Senam hamil yang telah menjadi salah satu program di tingkat pelayanan dasar baru menyentuh aspek kesehatan fisik ibu hamil saja. Seni Usik Wiwitan yang terdiri dari olahnafas dan olahtubuh (ngajurus) dan olahrasa (tumekung) diduga dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikis ibu. Melalui penelitian ini ingin diketahui adakah pengaruh kombinasi senam hamil dan seni Usik Wiwitan terhadap kesehatan ibu hamil. Penelitian ini aka dilakukan di Puskesmas Puter dan Ibrahim Adjie Kota Bandung dengan melibatkan 40 orang ibu hamil trimester III yang dalam kondisi sehat. Intervensi yang akan diberikan adalah senam hamil yang dikombinasikan dengan latihan Usik Wiwitan berupa ngajurus dan tumekung selama 10 minggu dengan frekuensi latihan seminggu sekali. Parameter yang akan diukur dalam penelitian ini adalah kondisi fisik ibu berupa tekanan darah, kadar protein urine dan keberadaan edema pada tubuh ibu. Adapun kondisi psikis ibu diukur dengan instrument kecemasan. Hasil pengumpulan data indicator fisik dan psikis ini dapat dijadikan rujukan untuk menjadikan intervensi ini bagian dari program persalinan yang aman dan tidak beresiko.</p>
<p style="text-align: justify;">EFFECT OF PREGNANCY EXERCISES AND  USIK WIWITAN ART</p>
<p style="text-align: justify;">ON HEALTH IN THIRD SEMESTER OF PREGNANT WOMEN IN BANDUNG</p>
<p style="text-align: justify;">Dr. Hj. Suryani S., Dipl.M, MM; Siti Sugih H, S.Si, M.Kes; Yeti Hernawati, S.ST, M.Keb</p>
<p style="text-align: justify;">Physical and psychological health of the pregnant women is determinant factor of the safe delivery. Pregnancy exercise that has become one of the program at the first level of basic health services still focus on physical health of pregnant women only. The Usik Wiwitan art practice that consist of bodywork  and breathwork (ngajurus) and also meditation (tumekung) could be expected to affect physical and psychological health of the pregnant women. Through this study we want to know is there any influence of a combination of pregnancy exercise and Usik Wiwitan art practice to the health of pregnant women. This study will conduct at Puter Health Center and Ibrahim Adjie Health Center in Bandung subdistrict involving 40 healthy pregnant women on third semester. Interventions that will be given is a pregnancy exercise combined with the Usik Wiwitan art practice for 10 weeks with a frequency of once a week exercise. Parameters to be measured in this study is the physical health condition of participants such as blood pressure, urine protein levels and the presence of edema. As for the psychological condition we will measure using HARS. The result of this study will be used  as a reference to make this intervention a part of the safe motherhood program.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>CAPAIAN MENGESANKAN DHB PADA LOMBA LKTM NASIONAL</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/capaian-mengesankan-dhb-pada-lomba-lktm-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2014 08:25:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kemahasiswaan]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[STIKes DHB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.stikesdhb.ac.id/?p=999</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah capaian yang cukup mengembirakan, dimana untuk keikutsertaan yang pertama kalinya dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia Bertajuk Nutrition Expo UI 2014…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah capaian yang cukup mengembirakan, dimana untuk keikutsertaan yang pertama kalinya dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia Bertajuk Nutrition Expo UI 2014 denga  tema &#8220;Kreasi Penganekaragaman Makanan Sebagai Langkah Penerapan Salah Satu Pilar Gizi Seimbang&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mahasiswa dari STIKes Dharma Husada Bandung yang ikut berpartisipasi dalam bentuk kelompok terdiri atas Dudi Sobarudin sebagai ketua kelompok dan Luriyona Rahayu serta Vian Rahayu sebagai anggota kelompok  mengajukan judul tentang &#8220;Bakso Jantung Pisang dan Kacang Tanah Yang Bernilai Gizi Seimbang&#8221;. Alhamdulilah meskipun terbilang baru dalam keikutsertaan nya, namun demikian perwakilan dari STIKes Dharma Husada Bandung mampu masuk dalam jajaran 10 besar. Tentunya ini merupakan pencapaian awal bagaimana kampus STIKes Dharma Husada Bandung mendorong setiap mahasiswa nya dalam riset atau penelitian.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedepan, mudah-mudahan STIKes Dharma Husada Bandung mampu berbicara lebih jauh lagi di berbagai ajang pada level nasional.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia 2013</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/simposium-internasional-perhimpunan-pelajar-indonesia-2013/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jan 2014 04:55:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=714</guid>

					<description><![CDATA[Laporan Simposium Internasional PPI Dunia di Thailand 2013 Gebi]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2014/01/Laporan-Simposium-Internasional-PPI-Dunia-di-Thailand-2013-Gebi.pdf">Laporan Simposium Internasional PPI Dunia di Thailand 2013 Gebi</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/kondom-wanita-salah-satu-pilihan-metode-kontrasepi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 03:24:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[bidan]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>
		<category><![CDATA[dharma husada]]></category>
		<category><![CDATA[etika kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[HIV]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[husada]]></category>
		<category><![CDATA[KB]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[kondom]]></category>
		<category><![CDATA[kondom wanita]]></category>
		<category><![CDATA[konsep kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=158</guid>

					<description><![CDATA[Kondom menjadi salah satu metode kontrasepsi (KB) yang bekerja dengan cara mencegah sperma bertemu dengan sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Penggunaan kondom cukup aman dan efektif sebagai…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kondom menjadi salah satu metode kontrasepsi (KB) yang bekerja dengan cara mencegah sperma bertemu dengan sel telur sehingga tidak terjadi pembuahan. Penggunaan kondom cukup aman dan efektif sebagai alat pencegah kehamilan selama kondom dipakai secara tepat dan benar.Umumnya kondom digunakan oleh kaum pria saat ereksi untuk mencegah terjadinya sperma bertemu sel telur agar tidak terjadi pembuahan. Namun kini urusan kontrasepsi itu tak hanya melulu dilakukan oleh pria, wanita pun wajib melindungi dirinya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Kondom untuk wanita adalah kondom yang dirancang khusus untuk digunakan oleh perempuan yang berbentuk tabung silinder yang dimasukkan ke dalam vagina. Kondom wanita memiliki desain yang pas untuk organ vital perempuan yang konon lebih enak digunakan daripada kondom pria.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Sama dengan kondom untuk pria, derajat keamanannya di bawah metode kontrasepsi seks lainnya, yang urutannya terdiri dari hormon, spiral, kondom, baru hitungan kalendar. Jadi tidak lebih aman dari hormon dan spiral,bahan kondom terbuat dari polyurethane yang lebih kuat dibandingkan latex pada kondom pria. Berbentuk silinder tipis dan lembut dengan panjang 17 centimeter dan diameter 6-7 centimeter, kondom ini dilengkapi dua buah cincin pada masing-masing ujungnya yang berfungsi sebagai rangka.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Kondom khusus untuk kaum wanita ini tidak menjamin aman digunakan dan antirobek 100 persen karena bisa saja salah dalam penggunaan, kesalahan produksi pabrik, kadaluarsa, dan sebagainya. Karena itu sebaiknya Anda teliti dan pastikan kondisi tangan serta vagina bersih sebelum menggunakannya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional H. Aburizal Bakrie meluncurkan kondom perempuan (Female Condom) sebagai bagian dari strategi penanggulangan HIV/AIDS dan mendorong penggunaan kondom yang lebih luas di setiap hubungan seks yang berisiko, pada hari ini bersamaan dengan pembukaan Pertemuan Nasional HIV dan AIDS ke-3 hari ini. Sementara, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH menjelaskan bahwa peluncuran kondom perempuan ini didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko dan diperburuk dengan fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko pasangannya tertular HIV.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Peluncuran kondom perempuan ini didasarkan atas kenyataan bahwa angka penggunaan kondom yang masih relatif rendah dalam hubungan seks yang berisiko adanya fakta bahwa banyak pria yang sering melakukan hubungan seks berganti pasangan enggan untuk menggunakan kondom sehingga meningkatkan risiko pasangannya tertular HIV.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dengan metode pencegahan yang bisa di kontrol oleh perempuan (female control method) ini, kita bisa mencegah lebih banyak lagi kasus HIV baru yang disebabkan oleh hubungan seks yang tidak aman. Dengan metode ini, perempuan bisa mengambil alih kontrol dan memastikan hubungan seks berlangsung lebih aman, karena dalam penggunaan kondom pria, laki-laki yang biasanya menjadi penentu apakah hubungan seks ini bisa berlangsung aman atau tidak.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Menurut konsultan kondom perempuan Caroline Maposhere dari Zimbabwe, selain efektif mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS). “Selain itu, kondom perempuan ini bisa digunakan beberapa jam sebelum berhubungan seks, dan tidak seperti kondom pria yang hanya bisa digunakan sekali, kondom perempuan bisa digunakan beberapa kali,”</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Produk Kondom Perempuan yang diluncurkan adalah produk yang dipasarkan oleh DKT Indonesia dan akan segera beredar dalam waktu 1 bulan diberbagai apotik-apotik terdekat. Kondom tersebut berbahan dasar Latex ini diimpor langsung dari India dan mempunyai busa/spons yang tertutup untuk menyerap sperma. Panjang Kondom ini 17cm dengan diameter 6,6 – 7 cm dan untuk mencegah bersarangnya penyakit, kondom ini juga mempunyai daerah segitiga yang elastis dan fleksibel. Sebelumnya kondom perempuan ini telah di uji coba di Papua dan Jakarta dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di Jakarta uji coba dilakukan terhadap Pekerja Seks Komersil di kawasan Rawa Bebek dan Ibu Rumah Tangga.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LANGKAH LANGKAH PEMAKAIAN KONDOM WANITA</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>LANGKAH 1</strong></p>
<p> Kondom wanita bisa dimasukkan hingga 8 Jam sebelum coitus/ berhubungan. Kondom ini terbuat dari Latex Poliuretan jadi aman jika menggunakan tambahan pelumas berbasis oil / minyak.<br /> Ujung yang terbuka terdapat cincin di bagian dalamnya, yang berguna untuk memasukan dan menahan kondom di tempat nya ( lihat gambar )<br /> <a href="http://pria-perkasa.com/artikel/seputar_seks/as_kondomwanita.php" target="_blank"><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/kondom%20wanita%201.jpg" height="218" width="215" title="Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi" alt="kondom%20wanita%201 Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi STIKes" /><br /> </a></p>
<p> <strong>LANGKAH 2</strong><br /> Tahan dan remas ring tsb dg jari sehingga membentuk angka 8 ( Lihat Gambar )<br /> <img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/kondom%20wanita%202.jpg" height="224" width="221" title="Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi" alt="kondom%20wanita%202 Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi STIKes" /><br /> <a href="http://pria-perkasa.com/artikel/seputar_seks/as_kondomwanita.php" target="_blank"> </a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LANGKAH 3</strong><br /> <img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/kondom%20wanita%203.jpg" height="224" width="221" title="Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi" alt="kondom%20wanita%203 Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi STIKes" /><br /> Masukan ring kondom ke dalam vagina dengan bantuan jari anda (lihat gambar )</p>
<p> <a href="http://pria-perkasa.com/artikel/seputar_seks/as_kondomwanita.php" target="_blank"> </a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LANGKAH 4</strong><br /> <img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/kondom%20wanita%204.jpg" height="221" width="219" title="Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi" alt="kondom%20wanita%204 Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi STIKes" /><br /> Dengan bantuan jari telunjuk&#8230;. dorong sejauh mungkin ke dalam vagina (Lihat gambar)</p>
<p> <a href="http://pria-perkasa.com/artikel/seputar_seks/as_kondomwanita.php" target="_blank"> </a><br /> <strong>LANGKAH 5</strong><br /> <img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/03/kondom%20wanita%205.jpg" height="238" width="235" title="Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi" alt="kondom%20wanita%205 Kondom Wanita, Salah Satu Pilihan Metode Kontrasepi STIKes" /><br /> Kondom sudah ada ditempat nya</p>
<p> <a href="http://pria-perkasa.com/artikel/seputar_seks/as_kondomwanita.php" target="_blank"> </a><br /> <strong>LANGKAH 6</strong></p>
<p> Setelah selesai coitus, Lepaskan kondom sebelum berdiri.<br /> Peras dan putar ring bagian luar, tarik perlahan dan buang pada tempat yg aman </p>
<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Deteksi Dini Anak Hiperaktif</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/deteksi-dini-anak-hiperaktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 06:35:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=150</guid>

					<description><![CDATA[A.Definisi Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif dikenal dengan istilah Attention Deficit…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>A.Definisi</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<ul>
<li>Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif dikenal dengan istilah <em>Attention Deficit Hiperactivity Disorder</em> atau ADHD,&#8221;</li>
<li>Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun ke bawah, dan tentunya untuk mengatasi anak hiperaktif ini membutuhkan kesabaran yang besar serta perhatian khususnya dari orang tua anak yang bersangkutan.</li>
</ul>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Etiologi (penyebab) :</strong></p>
<div style="text-align: justify;">
<ul>
<li>Keracunan pada akhir kehamilan ditandai (Hipertensi, pembengkakan kaki, proteinuri)</li>
<li>Cedera otak akibat trauma persalinan</li>
<li>Cedera otak akibat kecelakaan (Head injury/ trauma kepala, gegar otak)</li>
<li>Tingkat keracunan timbal yang parah pada saat janin (Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua)</li>
<li>Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali &amp; perkembangan bahasanya yang lamban.</li>
<li>Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar.</li>
</ul>
</div>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. Ciri-Ciri anak Hiperaktif :</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<ol>
<li> Tidak Fokus</li>
<li>Menentang</li>
<li>Destruktif (merusak)</li>
<li>Tak kenal lelah</li>
<li>Tanpa tujuan</li>
<li>Tidak sabar dan usil</li>
<li>Intelektualitas rendah</li>
</ol>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>D. TIPS Mengatasi anak hiperaktif</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama, PERIKSALAH.</strong><br />
Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua, PAHAMILAH.</strong><br />
Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga, LATIH kefokusannya.</strong><br />
Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat, TELATENLAH.</strong><br />
Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.<br />
Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya.</strong><br />
Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keenam, KENALI arah minatnya.</strong><br />
Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketujuh, MINTA dia bicara</strong>. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terakhir, SIAP bahu-membahu</strong>. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan<br />
berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh <strong>SENTUHAN</strong> dan <strong>PERHATIAN LEBIH</strong>. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi <strong>JENIUS</strong> yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Daftar Pustaka :</p>
<div style="text-align: justify;">
<ol start="1">
<li>Pakar bayi.com.2010</li>
<li>FK.UNHAS.com.2010</li>
<li>http..//anakhiperaktif.blogtspot.com.2010</li>
<li>Hockenberry. M. J. 2005. <em>Wong’s Essentials of Pediatric Nursing</em>. United States of America : Mosby</li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Penelitian Perilaku Kesehatan</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/metode-penelitian-perilaku-kesehatan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 03:24:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Besar Emeritus Departemen Pendidikan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Penelitian Perilaku Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[Soekidjo Notoatmodjo]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=144</guid>

					<description><![CDATA[PERILAKU DAN PERILAKU KESEHATAN Perilaku menurut Skinner merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus, yang dibedakan menjadi dua: Perilaku tertutup (covert behaviour),  apabila respons tersebut terjadi dalam diri…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERILAKU DAN PERILAKU KESEHATAN</strong></p>
<p><strong>Perilaku</strong> menurut Skinner merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus, yang dibedakan menjadi dua:</p>
<ol>
<li>Perilaku tertutup (<em>covert behaviour</em>),  apabila respons tersebut terjadi dalam diri sendiri, dan sulit diamati dari luar (orang lain) yang disebut dengan pengetahuan (<em>knowledge</em>) dan sikap (<em>attitude</em>).</li>
<li>Perilaku Terbuka (<em>Overt behaviour</em>), apabila respons tersebut dalam bentuk tindakan yang dapat diamati dari luar (orang lain) yang disebut praktek (<em>practice</em>)</li>
</ol>
<p>Perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori ‘S-O-R” (Stimulus-Organisme-Respons). Berdasarkan batasan dari Skinner tersebut, maka dapat didefinisikan bahwa  perilaku adalah kegiatan  atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka pemenuhan keinginan, kehendak, kebutuhan, nafsu, dan sebagainya. Kegiatan ini mencakup :</p>
<ol>
<li>Kegiatan kognitif: pengamatan, perhatian, berfikir yang disebut Pengetahuan</li>
<li>Kegiatan emosi: merasakan, menilai yang disebut Sikap (afeksi)</li>
<li>Kegiatan  konasi: keinginan, kehendak   yang disebut tindakan (practice)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perilaku kesehatan</strong> adalah suatu repson seseorang (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Dalam konteks pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan dibagi menjadi dua: 1) Perilaku masyarakat yang dilayani atau menerima pelayanan (<em>consumer</em>), Perilaku pemberi pelayanan atau petugas kesehatan yang melayani (<em>provider</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perilaku kesehatan masyarakat</strong> (<em>consumer</em>) adalah perilaku  individu, kelompok atau masyarakat yang terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Kegiatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ini meliputi kegiatan :</p>
<ol>
<li>Mencegah dari sakit dan kecelakaan (<em>preventif</em>).</li>
<li>Meningkatkan derajat kesehatannya (<em>promotif</em>)</li>
<li>Bila sakit berupaya untuk memperoleh kesembuhan (<em>kuratif</em>)</li>
<li>Bila telah sembuh berupaya untuk memulihkan (<em>rehabilitatif</em>)</li>
</ol>
<p>Dimensi Perilaku kesehatan dibagi menjadi dua:</p>
<ol>
<li><em>Healthy Behavior</em> yaitu perilaku orang sehat  untuk mencegah  penyakit dan meningkatkan kesehatan. Disebut juga perilaku preventif (Tindakan atau upaya  untuk mencegah dari sakit dan masalah kesehatan yang lain: kecelakaan) dan promotif (Tindakan atau kegiatan untuk memelihara dan meningkatkannya kesehatannya). Contoh : 1) Makan dengan gizi seimbang, 2) Olah raga/kegiatan fisik secara teratur, 3) Tidak mengkonsumsi  makanan/minuman yang mengandung zat  adiktif , 4) Istirahat cukup, 5) Rekreasi /mengendalikan stress.</li>
<li><em>Health Seeking Behavior</em> yaitu perilaku orang sakit untuk memperoleh kesembuhan  dan pemulihan kesehatannya. Disebut juga perilaku kuratif dan rehabilitative yang mencakup kegiatan: 1) Mengenali gejala penyakit , 2) Upaya memperoleh kesembuhan dan pemulihan yaitu dengan mengobati sendiri atau mencari pelayanan (tradisional, profesional), 3) Patuh terhadap proses penyembuhan dan pemulihan (<em>complientce</em>) atau kepatuhan</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>METODE PENELITIAN PERILAKU </strong></p>
<p><strong>Penelitian (Riset) </strong>adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip (Webster). Menurut Hillway, penelitian adalah suatu metoda studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan hati-hati dan sempurna terhadap masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (<em>inquiry</em>) secara sistematis dengan penekanan dilakukan terhadap masalah yang dirasakan. Penelitian adalah suatu proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau “kebenaran ilmiah” (<em>truth</em>).  Secara garis besar tahap/langkah penelitian adalah :</p>
<ol>
<li>Persiapan (mengembangkan proposal penelitian)</li>
<li>Pelaksanaan Penelitian (Pengumpulan Data)</li>
<li>Pengolahan dan Analisis Data</li>
<li>Pelaporan hasil penelitian (Penyajian)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Metode penelitian perilaku</strong> merupakan penerapan metode penelitian dalam perilaku kesehatan. Penelitian perilaku ini lebih spesifik karena subyek dan obyeknya adalah perilaku manusia yang sulit untuk diukur secara langsung. Perilaku manusia juga bersifat dinamis</p>
<p>Metode penelitian perilaku kesehatan dibagi menjadi dua:<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>1.  Metode Penelitian Survai</strong>, yaitu suatu penyelidikan dimana informasi didapatkan tanpa melakukan ekperimen atau percobaan terlebih dahulu. Penelitian survai ini dibedakan menjadi dua :</p>
<ul>
<li>Survai deskriptif, dilakukan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan fenomena atau karakteristik suatu populasi</li>
<li>Survai analitik, dilakukan untuk mencari penjelasan hubungan antara  fenomena-fenomena yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Ada tiga pendekatan:</li>
</ul>
<blockquote>
<ul>
<li>Survai potong lintang (<em>Cross sectional</em>), dimana Kausa (sebab) atau pengaruh dan akibat atau yang dipengaruhi diukur secara serentak. Pengukuran variabel independent (bebas) dan dependent (terikat) dilakukan pada titik waktu yang sama.</li>
<li>Retrospektif, merupakan tinjauan kebelakang yang dimulai dengan akibat (variable dependent) dan berjalan mundur ke kausa yang diduga sebagai sebab. Kelompok (orang-orang) yang menderita penyakit (masalah kesehatan=kasus) dibandingkan dengan kelompok pembanding (kontrol), untuk menentukan apakah mereka berbeda dalam pemaparan mereka terhadap faktor penyebab (risiko). Retrospektif juga disebut studi kasus kontrol (<em>case control study</em>)</li>
<li>Prospektif, dimulai  dengan penyebab, kausa atau risiko dan berjalan ke depan menuju akibat atau kasus. Kelompok (individu-individu) yang terpapar faktor risiko dan yang tidak terpapar, diikuti untuk menentukan timbulnya penyakit tertentu (akibat). Contoh: kelompok ibu hamil dengan anemia dan non anemia, diikuti sampai melahirkan. Kemudian bayinya diukur untuk membandingkan BBLR atau tidak (normal).</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>2. </strong><strong>Metode Penelitian Eksperimen</strong>, yaitu suatu penelitian dengan melakukan percobaan terlebih dahulu kemudian mengukur pengaruh dari percobaan tersebut. Peneliti melakukan intervensi atau percobaan terhadap variabel, untuk mengetahui perubahan variabel tersebut.</p>
<p>Pengukuran perilaku kesehatan dilakukan pada ketiga  domain perilaku kesehatan yaitu:</p>
<p>1.       <strong>Pengetahuan</strong>, yaitu “Apa yang diketahui oleh responden terkait dengan kesehatan.” Misalnya tentang penyakit (penyebab, cara penularan, cara pencegahan), gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan, dsb. Pengukuran pengetahuan bersifat “<strong>memory recall</strong>” (apa yang diingat oleh responden tentang pesan-pesan atau informasi kesehatan, <strong>bukan</strong> apa pendapat responden. Namun demikian apa yang diingat atau diketahui oleh responden sulit dibedakan dengan pendapat responden. Metode penelitian dan pengukuran pengetahuan dibedakan menjadi:</p>
<p><strong>a.    Kuantitatif:</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">1) Wawancara terstruktur</p>
<p style="padding-left: 30px;">2) Angket</p>
<p><strong>b.    Kualitatif:</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">1) Wawancara terbuka (mendalam)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2) Diskusi Kelompok Terfokus (DKT)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.       <strong>Sikap</strong>, yaitu “Apa pendapat atau penilaian responden terhadap hal yang terkait dengan kesehatan.” Pengukuran sikap dirumuskan dalam bentuk pernyataan. Pernyataan haruslah sependek mungkin, kurang lebih dua puluh kata. Bahasa yang digunakan juga sederhana dan jelas. Tiap satu pernyataan hanya memiliki satu pemikiran saja. Tidak menggunakan negatif rangkap. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a. Sikap merupakan tingkatan afeksi yang positif atau negatif  yang dihubungkan  dengan  obyek (Thurstone).</p>
<p style="padding-left: 30px;">b. Sikap dilihat dari individu yang menghubungkan efek yang  positif dengan obyek (individu menyenangi obyek atau negatif  atau tidak menyenangi obyek.(Edward)</p>
<p style="padding-left: 30px;">c. Sikap merupakan penilaian dan atau pendapat individu terhadap obyek :</p>
<p style="padding-left: 60px;">1)      Setuju, tak setuju</p>
<p style="padding-left: 60px;">2)      Baik, tak baik</p>
<p style="padding-left: 60px;">3)      Menerima, tak menerima</p>
<p style="padding-left: 60px;">4)      Senang, tak senang</p>
<p style="padding-left: 30px;">d.      Pendapat atau penilaian dinyatakan dalam bentuk pernyataan menggunakan  skala Likert,</p>
<p style="padding-left: 60px;">Misalnya:     Sangat setuju &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&gt; sangat tak setuju</p>
<p style="padding-left: 120px;">   Baik sekali &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;&gt; sangat tidak baik</p>
<p style="padding-left: 120px;">   Sangat menerima &#8212;&#8212;&#8211;&gt; sangat menolak</p>
<p>Metode pengukuran sikap dilakukan dengan :</p>
<p>a.       Wawancara</p>
<p style="padding-left: 30px;">1)      <em>Guided </em>(wawancara tertutup/terpimpin)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2)      <em>Unguided</em> (wawancara terbuka)</p>
<p>b.      Self administered (Angket):</p>
<p style="padding-left: 30px;">1)      <em>Guided</em> (tertutup/terpimpin)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2)      <em>Unguided</em> (terbuka)</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p>3.       <strong>Praktek (tindakan)</strong>, yaitu “Apa yang dilakukan oleh responden terhadap hal yang terkait dengan kesehatan (pecegahan penyakit, cara peningkatan kesehatan, cara memperoleh pengobatan yang tepat, dsb).” Pengukuran praktek (tindakan) adalah mengukur praktek, tindakan, atau kegiatan yang dilakukan oleh responden tentang hal-hal yang terkait dengan pemeliharaan atau peningkatan kesehatannya, misalnya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a. Makan, minum, mandi, buang air besar</p>
<p style="padding-left: 30px;">b. Berolah raga</p>
<p style="padding-left: 30px;">c. Upaya-upaya mencegah penyakit</p>
<p style="padding-left: 30px;">d. Mencari penyembuhan waktu sakit, dsb.</p>
<p>Pengukuran praktek dilakukan dengan metode:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a. Langsung , dengan observasi atau mengamati terhadap perilaku sasaran (respoden), dengan menggunakan lembar tilik (check list)</p>
<p style="padding-left: 30px;">b. Tidak langsung</p>
<p style="padding-left: 60px;">1) Metode “recall” atau mengingat kembali terhadap apa yang telah  dilakukan responden.</p>
<p style="padding-left: 60px;">2) Melalui orang ketiga (orang) lain yang “dekat” dengan responden yang ditelitii.</p>
<p style="padding-left: 60px;">3) Melalui “indikator” (hasil perilaku) responden, perilaku personal hygiene diukur dari kebersihan kuku, rambut, kulit, dsb.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="background-color: #cc99ff;"> </span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="background-color: #cc99ff;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Artikel di atas adalah rangkuman dari Kuliah Umum yang disampaikan oleh :  </span></span></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="background-color: #cc99ff;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><strong><a href="administrator/index.php?option=com_content&amp;sectionid=1&amp;task=edit&amp;cid[]=95">Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo</a>, </strong><em>Guru Besar Emeritus Departemen Pendidikan dan Ilmu PerilakuFakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia</em></span></span></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="background-color: #cc99ff;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">pada hari Sabtu tanggal 23 Januari 2011 di STIKes Dharma Husada Bandung</span></span></span><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peran Protein Inhibitor Untuk Menghambat Replikasi Virus HIV</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/virus-hiv/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 07:27:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=134</guid>

					<description><![CDATA[  Virus HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sebagaimana telah diketahui bahwa sel yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh adalah sel darah putih. Virus ini…]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p>Virus HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sebagaimana telah diketahui bahwa sel yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh adalah sel darah putih. Virus ini merusak sel-sel limfosit yang merupakan komponen dari sel darah putih. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Infeksi_oportunistik" title="Infeksi  oportunistik">infeksi oportunistik</a> ataupun mudah terkena <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tumor" title="Tumor">tumor</a>. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.</p>
<p style="text-align: center;"><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/gambar%20virus%20hiv.jpg" width="222" height="162" title="Peran Protein Inhibitor Untuk Menghambat Replikasi Virus HIV" alt="gambar%20virus%20hiv Peran Protein Inhibitor Untuk Menghambat Replikasi Virus HIV STIKes" /></p>
<p style="text-align: center;"><a title="gambar virus HIV" href="http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/adakah_obat_untuk_hivaids_saat_ini/">Gambar Daur Hidup HIV</a></p>
<p>Virus HIV dapat hidup terutama dalam cairan tubuh manusia, cairan tubuh yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu, sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Berkaitan dengan tempat hidup virus tersebut, maka penularan virus HIV dapat terjadi melalui <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_seksual" title="Hubungan  seksual">hubungan intim</a> (vaginal, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seks_anal" title="Seks anal">anal</a>, ataupun <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seks_oral" title="Seks  oral">oral</a>), <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Transfusi_darah" title="Transfusi darah">transfusi darah</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jarum_hipodermik" title="Jarum  hipodermik">jarum suntik</a> yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kehamilan" title="Kehamilan">kehamilan</a>, bersalin, atau <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Menyusui" title="Menyusui">menyusui</a>, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.</p>
<p>Virus HIV&nbsp; merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Virus HIV ini tidak dapat berkembangbiak secara mandiri, melainkan harus menggunakan perangkat yang dimiliki oleh sel-sel hidup. Adapun mekanisme replikasi virus dalam sel adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Virus mengubah RNA sebagai material genetiknya menjadi DNA dengan bantuan enzim <em>reverse transcriptase</em> </li>
<li>DNA tersebut diintegrasikan dengan DNA dari sel inangnya yang kemudian akan menghasilkan RNA virus baru</li>
<li>Enzim <em>protease</em> membantu pembentukkan selubung protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.</li>
</ol>
<p>Berkaitan dengan cara virus berkembangbiak seperti yang telah diuraikan di atas, maka para ahli berupaya menciptakan obat-obatan yang berfungsi sebagai&nbsp; penghambat (<em>inhibitor</em>) enzim <em>protease</em>. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV.</p>
<p>Menurut Flexner (1998), saat ini telah dikenal empat <em>inhibitor protease</em> berupa asam amino yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu &nbsp;Indinavir (Crixivan), nelfinavir (Viracept), ritonavir (Norvir), dan saquinavir (Invirase dan Fortovase). Inhibitor ini&nbsp; berfungsi mengenali dan memecah protein virus.</p>
<p>Orang yang terinfeksi virus HIV dapat dideteksi melalui keberadaan kadar CD4 dalam darahnya. CD4 adalah sebuah penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. Kadar CD4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1.400-1.500, sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu, misal pada orang yang terinfeksi HIV nilai CD4 semakin lama akan semakin menurun.</p>
<p>Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan <em>inhibitor protease</em> saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah CD4&nbsp; selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan <em>inhibitor reverse transcriptase</em>. <em>Inhibitor protease</em> yang dikombinasikan dengan <em>inhibitor reverse transcriptase</em> menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick &amp; Potts, 1998).</p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. <em>New England Journal of Medicine</em>. 338:1281-1293</p>
<p>Patrick, A.K. &amp; Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents. <em>Clinical Microbiology Reviews</em>. 11: 614-627.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
