<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Keperawatan &#8211; STIKes Dharma Husada</title>
	<atom:link href="https://stikesdhb.ac.id/category/s2-artikel/c11-keperawatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://stikesdhb.ac.id</link>
	<description>Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2015 05:45:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/cropped-Logo-32x32.gif</url>
	<title>Keperawatan &#8211; STIKes Dharma Husada</title>
	<link>https://stikesdhb.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/penatalaksanaan-untuk-anak-dengan-clubfoot-atau-kaki-pengkor-dengan-metode-non-operative-ponseti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Setiana]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2015 05:45:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[S1 Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[STIKes DHB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.stikesdhb.ac.id/?p=1168</guid>

					<description><![CDATA[PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI ALI MUSTHOFA, S.Kep., Ners Dosen Ilmu Keperawatan Anak STIKes Dhrma Husada Bandung Mahasiswa Magister Keperawatan Anak STIKes A Yani   CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) atau deformitas clubfoot adalah kelainan bentuk kompleks pada kaki bayi baru lahir yang secara umum dalam keadaan sehat. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>ALI MUSTHOFA, S.Kep., Ners</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dosen Ilmu Keperawatan Anak STIKes Dhrma Husada Bandung</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mahasiswa Magister Keperawatan Anak STIKes A Yani</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-1.png" class="lightbox fancybox" title="PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1170" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-1-150x150.png" alt="Picture 1 150x150 PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-1-150x150.png 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-1-64x64.png 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-1-128x128.png 128w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-1-30x30.png 30w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI"/></a>CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) atau deformitas clubfoot adalah kelainan bentuk kompleks pada kaki bayi baru lahir yang secara umum dalam keadaan sehat. Kelainan pada CTEV diakibatkan karena hubungan yang abnormal antara tulang-tulang kaki. Pada CTEV ukuran tulang talus lebih kecil dari ukuran kaki normal. Selain itu terjadi posisi abnormal tulang calcaneus, bagian anterior tulang calcaneus mengalami inversi dan adduksi, sedangkan bagian posteriornya displaced ke arah proksimal, sehingga calcaneus dalam posisi equinus, adduktus dan inversi.  Abnormalitas yang lain adalah otot dan tendon otot-otot betis bagian belakang memendek dan atrophy, ligamen dari kelompok otot betis bagian belakang dan dalam dari pergelangan kaki sangat tebal, kencang dan memendek, menahan kaki dalam posisi jinjit. Pemendekan ini bertanggung jawab atas terjadinya kelainan bentuk kaki pada CTEV.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika CTEV pada bayi tidak dikoreksi atau terkoreksi dengan tidak lengkap maka bayi akan tumbuh menjadi anak dengan kaki cacat dan bisa berlanjut hingga dewasa. Penderita CTEV memiliki pola jalan abnormal, penderita berjalan dengan kaki bagian luar mata kaki, sehingga kaki di bagian ini menerima tekanan berlebihan karena dipakai sebagai penyangga beban tubuh, dimana ditandai dengan adanya callosity (ngapal).</p>
<p style="text-align: justify;">TEV dapat terjadi secara independen atau sebagai temuan terisolasi (ITEV) atau sebagai bagian dari sindrom genetik dan sebagai salah satu masalah di antara kelainan lainnya. Efek dari ITEV pada bayi terbatas pada tungkai bawah; masalah ini tidak melibatkan sistem tubuh lain atau kemampuan mental yang terkena bayi (Miedzybrodzka 2003). Ketika TEV yang terjadi sebagai bagian dari sindrom atau dengan lainnya kelainan (seperti cacat system saraf, yaitu spina bifida) pengobatan mungkin lebih menantang dan bayi mungkin memiliki masalah sistemik lain yang tidak terkait dengan TEV (Cummings 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Frekuensi clubfoot dari populasi umum adalah 1 : 700 sampai 1 : 1000 kelahiran hidup dimana anak laki-laki dua kali lebih sering daripada perempuan. Insidensinya berkisar dari 0,39 per 1000 populasi Cina sampai 6,8 per 1000 diantara orang.  Berdasarkan data, 35% terjadi pada kembar monozigot dan hanya 3% pada kembar dizigot. Ini menunjukkan adanya peranan faktor genetika Kecenderungan sekuler untuk ITEV tetap konsisten di seluruh berbagai periode perekaman (Carey 2005 Moorthi 2005) . Prevalensi kelahiran untuk cacat ini berkisar 0,39-6,8 per 1000 kelahiran ( tergantung pada ras / etnis dan / atau latar belakang genetik) ; prevalensi untuk populasi AS adalah sekitar 0,74 per 1000 kelahiran , termasuk insiden TEV yang merupakan bagian dari sindrom atau berhubungan dengan cacat lainnya .</p>
<p style="text-align: justify;">Dari semua studi populasi didapatkan kejadian CTEV pada laki-laki lebih banyak 2 kali lipat dibanding wanita. Studi epidemiologi yang pernah dilakukan pada 468 bayi dengan CTEV, 71,36% berjenis kelamin laki-laki, sedang sisanya perempuan. Belum diketahui secara pasti penyebab perbedaan kejadian CTEV berdasarkan jenis kelamin. ( Byron Scott &#8211; 2005 , Carey 2005 Moorthi 2005 Lochmiller 1998) . hubungan antara paritas dan TEV jelas (Moorthi 2005 ) , seperti hubungan antara ITEV dan sungsang presentasi saat lahir ( Lochmiller 1998 ) . Anak sulung juga lebih mungkin untuk memiliki TEV dari anak-anak dari kehamilan berikutnya (Moorthi 2005) .</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-2.png" class="lightbox fancybox" title="PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-1169" src="http://www.stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-2-150x150.png" alt="Picture 2 150x150 PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI STIKes" width="150" height="150" srcset="https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-2-150x150.png 150w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-2-64x64.png 64w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-2-128x128.png 128w, https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Picture-2-30x30.png 30w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" title="PENATALAKSANAAN UNTUK ANAK DENGAN CLUBFOOT ATAU KAKI PENGKOR DENGAN METODE NON OPERATIVE PONSETI"/></a>Ada dua metode penatalaksanaan untuk CTEV yaitu metode non perative dan metode operative, Salah satu metode non operative yang populer di gunakan adalah dengan metode ponseti dimana metode ini dikembangkan oleh dr. Ignacio Ponseti dari Universitas Iowa. Metode ini dikembangkan dari penelitian kadaver dan observasi klinik yang dilakukan oleh dr. Ponseti, langkah-langkah yang harus diambil adalah sebagai berikut : 1. Deformitas utama yang terjadi pada kasus CTEV adalah adanya rotasi tulang kalkaneus ke arah intenal (adduksi) dan fleksi plantar pedis. Kaki berada dalam posisi adduksi dan plantar pedis mengalami fleksi pada sendi subtalar. Tujuan pertama adalah membuat kaki dalam posisi abduksi dan dorsofleksi. Untuk mendapatkan koreksi kaki yang optimal pada kasus CTEV, maka tulang kalkaneus harus bisa dengan bebas dirotasikan kebawah talus. 2.Cavus kaki akan meningkat  bila <em>forefoot </em>berada dalam posisi pronasi. Apabila ditemukan adany cavus, maka langkah pertama dalam koreksi kaki adalah dengan cara mengangkat metatarsal pertama dengan lembut, untuk mengoreksi cavusnya. Setelah cavus terkoreksi, maka <em>forefoot </em>dapat diposisikan abduksi seperti yang tertulis dalam langkah pertama. 3.Saat kaki diletakkan dalam posisi pronasi, hal tersebut dapat menyebabkan tulang kalkaneus berada di bawah talus. Apabila hal ini terjadi, maka tulang kalkaneus tidak dapat berotasi dan menetap pada posisi varus. 4.Manipulasi dikerjakan di ruang khusus setelah bayi disusui. Setelah kaki dimanipulasi, maka langkah selanjutnya adalah  memasang <em>long leg cast</em> untuk mempertahankan koreksi yang telah dilakukan. Gips harus dipasang dengan bantalan seminimal mungkin, tetapi tetap adekuat. Langkah selanjutnya adalah menyemprotkan benzoin tingtur ke kaki untuk melekatkan kaki dengan bantalan gips. Dr. Ponsetti lebih memilih untuk memasang bantalan tambahan sepanjang batas medial dan lateral kaki, agar aman saat melepaskan gips menggunakan gunting gips. Gips yang dipasang tidak boleh sampai menekan ibu jari kaki atau mengobliterasi arcus transversalis. Posisi lutut berada pada sudut 90° selama pemasangan gips panjang. Orang tua bayi dapat merendam gips ini selama 30-45 menit sebelum dilepas. Dr. Ponsetti memilih melepaskan gips dengan cara menggunakan gergaji yang berosilasi (berputar). Gips ini dibelah menjadi dua dan dilepas, kemudian disatukan kembali. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan abduksi <em>forefoot</em>, selanjutnya hal ini dapat digunakan untuk mengetahui dorsofleksi serta megetahui koreksi yang telah dicapai oleh kaki ekuinus. Secara umum metode ponseti ini dibutuhkan 4-6 kali pemasangan gips untuk mendapatkan abduksi kaki yang maksimum. Gips tersebut diganti tiap minggu. Koreksi yang dilakukan (usaha untuk membuat kaki dalam posisi abduksi) dapat dianggap adekuat bila aksis paha dan kaki sebesar 60°. Setelah dapat dicapai abduksi kaki maksimal, kebanyakan kasus membutukan dilakukannya tenotomi perkutaneus pada tendon Achilles. Hal ini dilakukan dalam keadaan aspetis. Daerah lokal dianestesi dengan kombinasi antara lignokain topikal dan infiltrasi lokal minimal menggunakan lidokain. Tenotomi dilakukan dengan cara membuat irisan menggunakan pisau Beaver (ujung bulat). Luka post operasi kemudian ditutup dengan jahitan tunggal menggunakan benang yang dapat diabsorbsi. Pemasangan gips terakhir dilakukan dengan kaki yang berada pada posisi dorsofleksi maksimum, kemudian gips dipertahankan hingga 2-3 minggu. 5.Langkah selanjutnya setelah pemasangan gips adalah pemakaian sepatu yang dipasangkan pada lempengan Dennis Brown. Kaki yang bermasalah diposisikan abduksi (rotasi ekstrim) hingga 70°.  with the unaffected foot set at 45° of abduction. Sepatu ini juga memiliki bantalan di tumit untuk mencegah kaki terselip dari sepatu. Sepatu ini digunakan 23 jam sehari selama 3 bulan, kemudian dipakai saat tidur siang dan malam selama 3 tahun</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Colburn M. et all. Evaluation of Treatment Of Idiopathic Clubfoot by Using the Ponseti method, Journal Foot and Ankle Surgery,vol 42,No 5. Mahboob G. Management of Idiopathic CTEV at Jinnah Postgraduate Medical Center,Karachi. Pakistan Jurnal of surgery, 2004,vol 10 No 3.</p>
<p style="text-align: justify;">Matthew B Dobbs.et all. Treatment of Idiopathic Clubfoot An Historical Review. Iowa Orthop J. 2000; 20, The Iowa Orthopaedic Journal.</p>
<p style="text-align: justify;">Soule, R. E. 2008. Treatment of Congenital Talipes Equinovarus in Infancy and Early Chlidhood. <a href="http://www.jbjs.com">www.jbjs.com</a>. (18 Mei 2015).</p>
<p style="text-align: justify;">Richard, Stephens, et all. A comparation of two nonoperative methode of idiopathic clubfoot correction : the ponesti method and the french functional (physiotherapy) methode. 2008. The journal of bone and joint surgery. Dallas texas <a href="http://www.jbjs.com">www.jbjs.com</a>. (18 mei 2015)</p>
<p style="text-align: justify;">Murphy K.MD, Musculoskeletal Condition and trauma in Children,Molnar Pediatric Rehabilitattion 3rd ed,Henley Bulfus,Philadelphia.p:74-78</p>
<p style="text-align: justify;">Guoqing Liu. Et all. Variation in WNT7A, Research article , BMC Medical Genetics2008,9:50OAvailable from URL: <a href="http://www.biomedcentral.com">http://www.biomedcentral.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">Tonetta P.,Foot and Ankle, Orthopedic Surgery Essential, Lipincott William and Wilkins, Philadelphia ,2004</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Deteksi Dini Anak Hiperaktif</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/deteksi-dini-anak-hiperaktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 06:35:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=150</guid>

					<description><![CDATA[A.Definisi Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif dikenal dengan istilah Attention Deficit Hiperactivity Disorder atau ADHD,&#8221; Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun ke bawah, dan tentunya untuk mengatasi anak hiperaktif ini membutuhkan kesabaran yang besar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>A.Definisi</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<ul>
<li>Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif dikenal dengan istilah <em>Attention Deficit Hiperactivity Disorder</em> atau ADHD,&#8221;</li>
<li>Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun ke bawah, dan tentunya untuk mengatasi anak hiperaktif ini membutuhkan kesabaran yang besar serta perhatian khususnya dari orang tua anak yang bersangkutan.</li>
</ul>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Etiologi (penyebab) :</strong></p>
<div style="text-align: justify;">
<ul>
<li>Keracunan pada akhir kehamilan ditandai (Hipertensi, pembengkakan kaki, proteinuri)</li>
<li>Cedera otak akibat trauma persalinan</li>
<li>Cedera otak akibat kecelakaan (Head injury/ trauma kepala, gegar otak)</li>
<li>Tingkat keracunan timbal yang parah pada saat janin (Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua)</li>
<li>Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali &amp; perkembangan bahasanya yang lamban.</li>
<li>Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar.</li>
</ul>
</div>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. Ciri-Ciri anak Hiperaktif :</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<ol>
<li> Tidak Fokus</li>
<li>Menentang</li>
<li>Destruktif (merusak)</li>
<li>Tak kenal lelah</li>
<li>Tanpa tujuan</li>
<li>Tidak sabar dan usil</li>
<li>Intelektualitas rendah</li>
</ol>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>D. TIPS Mengatasi anak hiperaktif</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama, PERIKSALAH.</strong><br />
Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua, PAHAMILAH.</strong><br />
Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga, LATIH kefokusannya.</strong><br />
Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat, TELATENLAH.</strong><br />
Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.<br />
Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya.</strong><br />
Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keenam, KENALI arah minatnya.</strong><br />
Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketujuh, MINTA dia bicara</strong>. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terakhir, SIAP bahu-membahu</strong>. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan<br />
berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh <strong>SENTUHAN</strong> dan <strong>PERHATIAN LEBIH</strong>. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi <strong>JENIUS</strong> yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Daftar Pustaka :</p>
<div style="text-align: justify;">
<ol start="1">
<li>Pakar bayi.com.2010</li>
<li>FK.UNHAS.com.2010</li>
<li>http..//anakhiperaktif.blogtspot.com.2010</li>
<li>Hockenberry. M. J. 2005. <em>Wong’s Essentials of Pediatric Nursing</em>. United States of America : Mosby</li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
