<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kesehatan masyarakat &#8211; STIKes Dharma Husada</title>
	<atom:link href="https://stikesdhb.ac.id/tag/kesehatan-masyarakat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://stikesdhb.ac.id</link>
	<description>Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Aug 2013 15:11:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/cropped-Logo-32x32.gif</url>
	<title>kesehatan masyarakat &#8211; STIKes Dharma Husada</title>
	<link>https://stikesdhb.ac.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/informasi-penerimaan-mahasiswa-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 03:29:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=152</guid>

					<description><![CDATA[STIKes Dharma Husada Bandung, menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2011-2012. Sebagai informasi awal silahkan bapak/ibu/saudara membuka halaman ini. klik disini.Untuk informasi lebih lanjut, bapak/ibu/saudara dapat datang langsung dan menghubungi bagian pendaftaran atau bisa melalui telp. 022 7208261 (Jam Kerja). Peta Lokasi Kampus STIKes Dharma Husada Bandung :]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="color: #000080;">STIKes Dharma Husada Bandung, menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2011-2012. Sebagai informasi awal silahkan bapak/ibu/saudara membuka halaman ini. <a target="_self" title="Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru" href="akademik/pengumuman-akademik/74-penerimaan-mahasiswa-baru-2010-2011.html">klik disini</a>.<br />Untuk informasi lebih lanjut, bapak/ibu/saudara dapat datang langsung dan menghubungi bagian pendaftaran atau bisa melalui telp. 022 7208261 (Jam Kerja).<br /></span></span></p>
<div style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="color: #000080;"><span style="color: #008000;">Peta Lokasi Kampus STIKes Dharma Husada Bandung :</span></span></span></span><br /><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="color: #000080;"><span style="color: #008000;"></span></span></span></div>
<p><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><span style="color: #000080;"></p>
<p style="text-align: center;"><img fetchpriority="high" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/02/peta%20stikes%20dharma%20husada%20bandung.jpg" alt="peta%20stikes%20dharma%20husada%20bandung Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru STIKes" title="peta stikes dharma husada bandung" width="501" height="307"/></p>
<p></span></span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Deteksi Dini Anak Hiperaktif</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/deteksi-dini-anak-hiperaktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 06:35:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=150</guid>

					<description><![CDATA[A.Definisi Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif dikenal dengan istilah Attention Deficit Hiperactivity Disorder atau ADHD,&#8221; Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun ke bawah, dan tentunya untuk mengatasi anak hiperaktif ini membutuhkan kesabaran yang besar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>A.Definisi</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<ul>
<li>Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Hiperaktif dikenal dengan istilah <em>Attention Deficit Hiperactivity Disorder</em> atau ADHD,&#8221;</li>
<li>Gangguan ini umumnya terjadi pada anak-anak yang berusia 7 tahun ke bawah, dan tentunya untuk mengatasi anak hiperaktif ini membutuhkan kesabaran yang besar serta perhatian khususnya dari orang tua anak yang bersangkutan.</li>
</ul>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Etiologi (penyebab) :</strong></p>
<div style="text-align: justify;">
<ul>
<li>Keracunan pada akhir kehamilan ditandai (Hipertensi, pembengkakan kaki, proteinuri)</li>
<li>Cedera otak akibat trauma persalinan</li>
<li>Cedera otak akibat kecelakaan (Head injury/ trauma kepala, gegar otak)</li>
<li>Tingkat keracunan timbal yang parah pada saat janin (Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua)</li>
<li>Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali &amp; perkembangan bahasanya yang lamban.</li>
<li>Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar.</li>
</ul>
</div>
<p style="text-align: justify;"><strong>C. Ciri-Ciri anak Hiperaktif :</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<ol>
<li> Tidak Fokus</li>
<li>Menentang</li>
<li>Destruktif (merusak)</li>
<li>Tak kenal lelah</li>
<li>Tanpa tujuan</li>
<li>Tidak sabar dan usil</li>
<li>Intelektualitas rendah</li>
</ol>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>D. TIPS Mengatasi anak hiperaktif</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama, PERIKSALAH.</strong><br />
Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua, PAHAMILAH.</strong><br />
Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga, LATIH kefokusannya.</strong><br />
Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat, TELATENLAH.</strong><br />
Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.<br />
Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya.</strong><br />
Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keenam, KENALI arah minatnya.</strong><br />
Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketujuh, MINTA dia bicara</strong>. Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terakhir, SIAP bahu-membahu</strong>. Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan<br />
berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh <strong>SENTUHAN</strong> dan <strong>PERHATIAN LEBIH</strong>. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi <strong>JENIUS</strong> yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Daftar Pustaka :</p>
<div style="text-align: justify;">
<ol start="1">
<li>Pakar bayi.com.2010</li>
<li>FK.UNHAS.com.2010</li>
<li>http..//anakhiperaktif.blogtspot.com.2010</li>
<li>Hockenberry. M. J. 2005. <em>Wong’s Essentials of Pediatric Nursing</em>. United States of America : Mosby</li>
</ol>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Aspek Biokimia Ikterus</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/aspek-biokimia-ikterus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 05:40:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aspek biokimia ikterus]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=149</guid>

					<description><![CDATA[A.&#160;&#160; Pendahuluan Ikterus adalah perubahan warna kulit/sclera mata menjadi kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah.&#160; Hal ini merupakan suatu gejala klinik yang sering tampak pada bayi baru lahir.&#160; Menurut kepustakaan, frekuensi bayi yang menunjukkan ikterus pada hari pertama sesudah lahir ialah 50% pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi prematur.&#160; Ikterus pada bayi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A.&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Ikterus adalah perubahan warna kulit/sclera mata menjadi kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah.&nbsp; Hal ini merupakan suatu gejala klinik yang sering tampak pada bayi baru lahir.&nbsp; Menurut kepustakaan, frekuensi bayi yang menunjukkan ikterus pada hari pertama sesudah lahir ialah 50% pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi prematur.&nbsp; Ikterus pada bayi yang baru lahir dapat merupakan suatu hal yang <em>fisiologis</em> (normal). Tapi juga bisa merupakan hal yang <em>patologis</em> (tidak normal) misalnya akibat berlawanannya rhesus darah bayi dan ibunya, sepsis (infeksi berat), penyumbatan saluran empedu, dan lain-lain. Adapun bilirubin adalah pigmen empedu utama, merupakan hasil akhir metabolisme pemecahan sel darah merah yang sudah tua, proses konjugasinya berlangsung dalam hati dan diekskresikan ke dalam empedu.</p>
<div style="text-align: justify; padding-left: 30px;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Darah adalah cairan tubuh yang kental berwarna merah tidak transparan. Darah merupakan jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lainnya, karena berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem pembuluh tertutup yang dinamai sistem pembuluh darah dan menjalankan fungsi transpor berbagai bahan serta fungsi homeostatis. Darah terdiri dari dua komponen yaitu sel-sel darah dan plasma darah.</p>
<p> </p>
<p><strong>B.&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Sel-sel Darah</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Sel-sel darah dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar :</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<dl>
<dd style="padding-left: 30px;"><img decoding="async" style="float: left;" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/02/sel%20darah%20merah.jpg" width="151" height="111" title="Aspek Biokimia Ikterus" alt="sel%20darah%20merah Aspek Biokimia Ikterus STIKes"/> </dd>
<dd style="padding-left: 60px;">
<div style="text-align: justify;">&nbsp;1. Sel darah&nbsp; merah (eritrosit) yaitu sel yang&nbsp; berbentuk  bulat, tidak&nbsp; erinti dan berwarna merah kebiruan homogen. Sel-sel ini memberi warna merah pada darah sehingga dinamai sel darah merah.</div>
</dd>
</dl>
<div style="text-align: justify; padding-left: 30px;"></div>
<p style="padding-left: 60px;"><img decoding="async" style="float: left;" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/02/sel%20darah%20putih.jpg" width="151" height="98" title="Aspek Biokimia Ikterus" alt="sel%20darah%20putih Aspek Biokimia Ikterus STIKes"/>&nbsp;</p>
<p style="padding-left: 90px; text-align: justify;">&nbsp; 2. Sel darah putih (leukosit) yaitu sel yang berinti dengan ukuran sitoplasma yang bermacam-macam.&nbsp;</p>
<p style="padding-left: 60px;"> </p>
<p style="padding-left: 60px;">Berdasarkan bentuk inti, terdapat 2 jenis leukosit yaitu:</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;"><strong>a.</strong> Leukosit polimorfonukleus (sel PMN) yaitu leukosit dengan inti yang terpecah-pecah sehingga sekilas mempunyai beberapa inti dengan berbagai bentuk. Sel PMN ini karena mempunyai inti yang terpecah-pecah seperti butir-butir kecil, maka kerap disebut juga sel granulosit atau sel bergranula. Berdasarkan warna sitoplasmanya, terdapat 3 jenis sel granulosit yaitu netrofil yang berwarna&nbsp; netral, eosinofil yang berwarna merah dan basofil yang berwarna biru</p>
<div style="text-align: justify; padding-left: 30px;"></div>
<p style="padding-left: 60px; text-align: justify;"><strong>b.</strong> Leukosit dengan inti bulat, yang memberi kesan inti tunggal dan utuh, sehingga disebut juga sel mononukleus. Sel-sel ini dibedakan lagi berdasarkan ukuran volume sitoplasma menjadi sel limfosit yaitu sel mononukleus dengan sitoplasma sangat sedikit sehingga didominasi oleh inti yang bulat, dan sel monosit yaitu sel mononukleus dengan sitoplasma yang banyak dan intinya agak berlekuk seperti kacang merah.</p>
<p></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="padding-left: 30px;"><a target="_self" title="trombosit" href="http://4.bp.blogspot.com/_t9e_PtyMt6M/SnfZIpLsF8I/AAAAAAAAAAU/vml3qEs7Aio/s1600-h/trombosit.png" class="lightbox fancybox" title="Aspek Biokimia Ikterus"><img loading="lazy" decoding="async" style="float: left;" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/02/trombosit.jpg" width="183" height="118" title="Aspek Biokimia Ikterus" alt="trombosit Aspek Biokimia Ikterus STIKes"/></a></p>
<p style="padding-left: 30px; text-align: justify;">&nbsp; 3. Keping darah (trombosit) yaitu serpihan atau keping-keping fragmen sel yang tersebar dan&nbsp; berukuran sangat kecil dan berperan dalam proses pembekuan darah.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>C.&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Plasma dan Serum Darah</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Bila darah dipusingkan dengan alat sentrifus kemudian didiamkan selama 1 jam, maka akan tampak dua bagian yang terpisah yaitu gumpalan darah yang merupakan kumpulan dari sel-sel darah dan bagian cair yang berwarna kuning jernih yang merupakan plasma dan serum darah. &nbsp;Plasma darah mengandung senyawa yang dapat menggumpalkan darah yaitu fibrinogen, sedangkan serum tidak mengandung fibrinogen. Di dalam plasma atau serum terdapat berbagai macam senyawa yang dapat dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan berat molekulnya:</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ion-ion anorganik</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">Ion yang terdapat dalam plasma atau serum terdiri atas ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Kation yang penting adalah Na<sup>+</sup>, K<sup>+</sup>, Mg<sup>2+</sup>, Ca<sup>+</sup>, H<sup>+</sup>, adapun anion yang penting dalam plasma adalah HCO<sub>3</sub><sup>&#8211;</sup> (bikarbonat) dan Cl<sup>&#8211;</sup> (klorida) serta ion laktat (CH<sub>3</sub>-CHOH-COO<sup>&#8211;</sup>)</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Molekul organik kecil</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">Molekul-molekul ini ada yang merupakan senyawa yang baru diserap dari sistem pencernaan seperti obat-obatan, asam amino esensial, asam lemak dan vitamin dan ada pula yang merupakan produk dari organ tertentu untuk dibawa ke jaringan tubuh lain seperti glukosa, asam amino nonesensial, asam lemak nonesensial, kolesterol dan berbagai hormon, serta ada pula senyawa-senyawa yang akan dibuang oleh alat ekskresi. Senyawa-senyawa yang akan dibuang antara lain asam urat, kreatinin, urea dan bilirubin. Asam urat merupakan hasil katabolisme yang siap dibuang dari senyawa purin. Kreatinin merupakan hasil katabolisme kreatin yang terutama terdapat dalam otot lurik. Urea adalah hasil pengolahan atom Nitrogen yang terdapat dalam asam amino dan protein. Bilirubin berasal dari katabolisme hem yang terkandung dalam hemoglobin. Sel darah merah yang sudah tua dihancurkan oleh sel-sel makrofag dan hemoglobin yang dibebaskan kemudian diolah. Hem yang dipisahkan dari hemoglobin diolah menjadi senyawa yang berwarna kuning dan dinamakan bilirubin taklarut. Senyawa ini dibawa ke hati dalam bentuk yang terikat dengan protein plasma yaitu albumin. Selanjutnya oleh hati bilirubin taklarut ini diubah lagi menjadi bilirubin yang larut dalam air dan dikeluarkan melalui kantung empedu, untuk seterusnya dibuang bersama feces.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><strong>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp; Protein dalam cairan darah</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">Protein yang larut dalam darah terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu albumin dan globulin. Protein plasma disintesis oleh berbagai organ yang berbeda, namun organ utama yang berperan adalah hati dan sekelompok sel yang membentuk jaringan sistem retikuloendotel (<em>Reticuloendothelial System</em>, RES).</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>D.&nbsp;&nbsp; </strong><strong> Metabolisme Bilirubin</strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Dalam keadaan fisiologis, masa hidup sel darah merah (eritrosit) manusia sekitar 120 hari, eritrosit mengalami lisis sebanyak 1-2×10<sup>8 </sup>setiap jamnya pada seorang dewasa dengan berat badan 70 kg, di mana diperhitungkan hemoglobin yang turut lisis sekitar 6 gr perhari. Sel-sel eritrosit tua dikeluarkan dari sirkulasi dan dihancurkan oleh limpa. Apoprotein dari hemoglobin dihidrolisis menjadi komponen asam-asam aminonya. Katabolisme heme dari semua hemoprotein terjadi dalam fraksi mikrosom sel retikuloendotel oleh sistem enzim yang kompleks yaitu heme oksigenase. Langkah awal pemecahan gugus heme ialah pemutusan jembatan α metena membentuk biliverdin, suatu tetrapirol linier. Besi mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi, reaksi-reaksi ini memerlukan oksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe<sup>3+</sup> yang dapat digunakan kembali dan karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena dan biliverdin. Biliverdin, suatu pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdin reduktase yang menggunakan NADPH sehingga rantai metenil menjadi rantai metilen antara cincin pirol III – IV dan membentuk pigmen berwarna kuning yaitu bilirubin. Perubahan warna pada memar merupakan petunjuk reaksi degradasi ini. Bilirubin bersifat lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan biliverdin.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Bilirubin diubah menjadi bentuk larut </strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Dalam setiap 1 gr hemoglobin yang lisis akan membentuk 35 mg bilirubin. Pada orang dewasa, bilirubin dibentuk sekitar 250–350 mg/hari, berasal dari pemecahan hemoglobin, proses ertropoetik yang tidak efekif dan pemecahan hemeprotein lainnya. Bilirubin dari jaringan retikuloendotel adalah bentuk yang sedikit larut dalam plasma dan air. Bilirubin ini akan diikat nonkovalen dan diangkut oleh albumin ke hepar. Dalam 100 ml plasma hanya sekitar 25 mg bilirubin yang dapat diikat kuat pada albumin. Bilirubin yang melebihi jumlah ini hanya terikat longgar hingga mudah lepas dan berdifusi ke jaringan. Bilirubin yang sampai di hati akan dilepas dari albumin dan diambil pada permukaan sinusoid hepatosit oleh suatu protein pembawa yaitu ligandin. Sistem transport difasilitasi ini mempunyai kapasitas yang sangat besar, tetapi pengambilan bilirubin akan tergantung pada kelancaran proses yang akan dilewati bilirubin berikutnya.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Bilirubin nonpolar akan menetap dalam sel jika tidak diubah menjadi bentuk larut. Hepatosit akan mengubah bilirubin menjadi bentuk larut yang dapat diekskresikan dengan mudah ke dalam kandung empedu. Proses perubahan tersebut melibatkan asam glukoronat yang dikonjugasikan dengan bilirubin, dikatalisis oleh enzim bilirubin glukoronosil transferase. Hati mengandung sedikitnya dua isoform enzim glukoronosil transferase yang terdapat terutama pada retikulum endoplasma. Reaksi konjugasi ini berlangsung dua tahap, memerlukan Uridin disphosphoglukoronik Acid (UDPGA)&nbsp; sebagai donor glukoronat.</p>
<div style="text-align: justify; padding-left: 30px;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Tahap pertama akan membentuk bilirubin monoglukoronida sebagai senyawa antara yang kemudian dikonversi menjadi bilirubin diglukoronida yang larut pada tahap kedua. Ekskresi bilirubin larut ke dalam saluran dan kandung empedu berlangsung dengan mekanisme transport aktif yang melawan gradien konsentrasi. Dalam keadaan fisiologis, seluruh bilirubin yang diekskresikan ke kandung empedu berada dalam bentuk terkonjugasi.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Pembentukan urobilin </strong></p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Bilirubin terkonjugasi yang mencapai ileum terminal dan kolon dihidrolisa oleh enzim bakteri β glukoronidase dan pigmen yang bebas dari glukoronida direduksi oleh bakteri usus menjadi urobilinogen, suatu senyawa tetrapirol tak berwarna. Sejumlah urobilinogen diabsorbsi kembali dari usus ke perdarahan portal dan dibawa ke ginjal kemudian dioksidasi menjadi urobilin yang memberi warna kuning pada urine. Sebagian besar urobilinogen berada pada feces akan dioksidasi oleh bakteri usus membentuk sterkobilin yang berwarna kuning kecoklatan.</p>
<div style="text-align: justify; padding-left: 30px;"></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Adapun mekanisme di atas dapat diringkas secara skematis berikut ini:</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/02/pembentukkan%20urobilin.jpg" title="pembentukan urobilin" width="500" height="258" alt="pembentukkan%20urobilin Aspek Biokimia Ikterus STIKes"/></p>
<p> </p>
<p><strong>E.&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Ikterus </strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Ikterus atau jaundice atau hiperbilirubinemia adalah keadaan di mana jaringan terutama kulit dan sklera mata menjadi kuning akibat deposisi bilirubin yang berdifusi dari konsentrasinya yang tinggi di dalam darah.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Dalam proses pertumbuhan janin, sistem pengeluaran hasil degradasi hemoglobin berbeda dengan hal yang telah dijelaskan di atas. Pada janin, jalan utama pengeluaran bilirubin melalui hati dan usus belum berkembang dengan sempurna. Penggunaan jalan placenta hanya dapat dalam bentuk bilirubin taklarut yang terikat pada albumin. Pada bayi baru lahir, kematangan sistem pengeluaran bilirubin melalui jalan hati dan usus menentukan terjadinya ikterus neonatorum yang fisiologik, karena aktivitas glukoronosil transferase masih rendah. Ikterus fisiologik terutama terjadi pada bayi prematur karena kurang kematangan sistem itu. Jadi lamanya masa kehamilan dan derajat kematangan sistem pengeluran bilirubin melalui hepar dan usus sangat menentukan timbulnya ikterus fisiologik. &nbsp;Apabila peningkatan bilirubin tak larut ini melampaui kemampuan albumin mengikat kuat, bilirubin akan berdifusi ke basal ganglia pada otak dan menyebabkan ensephalopaty toksik yang disebut sebagai kern ikterus.</p>
<p> </p>
<p><strong>F.&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong><strong>Mekanisme Patofisiologik Ikterus</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">Terdapat&nbsp; 4 mekanisme umum di mana hiperbilirubinemia dan ikterus dapat&nbsp; terjadi :</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>1. Pembentukan bilirubin secara berlebihan.</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Penyakit hemolitik atau peningkatan kecepatan destruksi sel darah merah merupakan penyebab utama dari pembentukan bilirubin yang berlebihan. Ikterus yang timbul sering disebut <em>ikterus hemolitik.</em> Konjugasi dan transfer pigmen empedu berlangsung normal, tetapi suplai bilirubin tak terkonjugasi melampaui kemampuan. Beberapa penyebab ikterus hemolitik yang sering adalah hemoglobin abnormal (hemoglobin S pada anemia sel sabit), sel darah merah abnormal (sterositosis herediter) , &nbsp;antibodi dalam serum (Rh atau autoimun), pemberian beberapa obat-obatan, dan beberapa limfoma atau pembesaran (limpa dan peningkatan hemolisis). Sebagaian kasus ikterus hemolitik dapat diakibatkan oleh peningkatan destruksi sel darah merah atau prekursornya dalam sumsum tulang (thalasemia, anemia persuisiosa, porfiria). Proses ini dikenal sebagai eritropoiesis tak efektif. Kadar bilirubin tak terkonjugasi yang melebihi 20 mg / 100 ml pada bayi dapat mengakibatkan kern ikterus.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"> </p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>2. Gangguan pengambilan bilirubin tak terkonjugasi oleh hati</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Pengambilan bilirubin tak terkonjugasi yang terikat albumin oleh sel-sel hati dilakukan dengan memisahkannya dari albumin dan mengikatkan pada protein penerima. Hanya beberapa obat yang telah terbukti menunjukkan pengaruh terhadap pengambilan bilirubin oleh sel-sel hati, asam flafas pidat (dipakai untuk mengobati cacing pita), nofobiosin, dan beberapa zat warna kolesistografik. Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi dan Ikterus biasanya menghilang bila obat yang menjadi penyebab dihentikan. Dahulu Ikterus Neonatal dan beberapa kasus sindrom Gilbert dianggap oleh defisiensi protein penerima dan gangguan dalam pengambilan oleh hati. Namun pada kebanyakan kasus demikian, telah ditemukan defisiensi glukoronil tranferase sehingga keadaan ini terutama dianggap sebagai cacat konjugasi bilirubin.</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><br /></strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>3. Gangguan konjugasi bilirubin.</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Hiperbilirubinemia tak terkonjugasi yang ringan ( &lt; 12,9 / 100 ml ) yang mulai terjadi pada hari ke dua sampai ke lima lahir disebut Ikterus Fisiologis pada Neonatus. Ikterus Neonatal yang normal ini disebabkan oleh kurang matangnya enzim glukoronik transferase. Aktivitas glukoronil tranferase biasanya meningkat beberapa hari setelah lahir sampai sekitar minggu kedua, dan setelah itu ikterus akan menghilang.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Kern Ikterus atau Bilirubin enselopati timbul akibat penimbunan bilirubin tak terkonjugasi pada daerah basal ganglia yang banyak lemak. Bila keadaan ini tidak di obati maka akan terjadi kematian atau kerusakan neorologik berat. Tindakan pengobatan yang saat ini dilakukan pada neonatus dengan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi adalah dengan fototerapi, yaitu berupa pemberian sinar biru atau sinar fluoresen &nbsp;pada kulit bayi yang telanjang. Penyinaran ini menyebabkan perubahan struktural bilirubin (foto isomerisasi) menjadi isomer-isomer yang larut dalam air, isomer ini akan diekskresikan dengan cepat ke dalam empedu tanpa harus dikonjugasi terlebih dahulu.</p>
<p style="padding-left: 30px;"> </p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>4. Penurunan ekskresi bilirubin terkonjugasi dalam empedu akibat faktor intrahepatik yang bersifat obstruksi fungsional atau mekanik</strong></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">Gangguan eskresi bilirubin, baik yang disebabkan oleh faktor-faktor fungsional maupun obstruksi, terutama mengakibatkan hiperbilirubinemia terkonjugasi. Karena bilirubin terkonjugasi larut dalam air, maka bilirubin ini dapat diekskresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin dan kemih berwarna gelap. Urobilinogen feses dan urobilinogen kemih sering berkurang sehingga terlihat pucat. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai bukti-bukti kegagalan ekskresi hati lainnya, seperti peningkatan kadar fosfate alkali dalam serum, AST, Kolesterol, dan garam-garam empedu. Peningkatan garam-garam empedu dalam darah menimbulkan gatal-gatal pada ikterus. Ikterus yang diakibatkan oleh hiperbilirubinemia terkonjugasi biasanya lebih kuning dibandingkan dengan hiperbilirubinemia tak terkonjugasi. Perubahan warna berkisar dari kuning jingga muda atau tua sampai kuning hijau bila terjadi obstruksi total aliran empedu perubahan ini merupakan bukti adanya ikterus kolestatik, yang merupakan nama lain dari ikterus obstruktif. Kolestatik dapat bersifat intrahepatik (mengenai sel hati, kanalikuli, atau kolangiola ) atau ekstra hepatik (mengenai saluran empedu di luar hati).</p>
<p> </p>
<p><strong>Sumber Pustaka</strong></p>
<p>Helvi Mardiani. 2004. <strong>Metabolisme Heme</strong>. Melalui &lt;<a href="http://library.usu.ac.id/download/fk/biokimia-helvi2.pdf">http://library.usu.ac.id/download/fk/biokimia-helvi2.pdf</a>&gt;</p>
<p>Marks, Dawn, <em>et.al</em>. Alihbahasa: Brahm U. Pendit. 2000. <strong>Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis</strong>. Jakarta: Penerbit EGC.</p>
<p>Mohammad Sadikin, Dr., DSc. 2002. <strong>Biokimia Darah</strong>. Jakarta: Widya Medika</p>
<p>Murray, Robert K., <em>et al</em>. Alihbahasa: Andry Hartono. 1997. <strong>Biokimia Harper</strong>. Jakarta: Penerbit EGC.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Penelitian Perilaku Kesehatan</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/metode-penelitian-perilaku-kesehatan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 03:24:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Riset]]></category>
		<category><![CDATA[Guru Besar Emeritus Departemen Pendidikan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Penelitian Perilaku Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[Soekidjo Notoatmodjo]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=144</guid>

					<description><![CDATA[PERILAKU DAN PERILAKU KESEHATAN Perilaku menurut Skinner merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus, yang dibedakan menjadi dua: Perilaku tertutup (covert behaviour),  apabila respons tersebut terjadi dalam diri sendiri, dan sulit diamati dari luar (orang lain) yang disebut dengan pengetahuan (knowledge) dan sikap (attitude). Perilaku Terbuka (Overt behaviour), apabila respons tersebut dalam bentuk tindakan yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERILAKU DAN PERILAKU KESEHATAN</strong></p>
<p><strong>Perilaku</strong> menurut Skinner merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus, yang dibedakan menjadi dua:</p>
<ol>
<li>Perilaku tertutup (<em>covert behaviour</em>),  apabila respons tersebut terjadi dalam diri sendiri, dan sulit diamati dari luar (orang lain) yang disebut dengan pengetahuan (<em>knowledge</em>) dan sikap (<em>attitude</em>).</li>
<li>Perilaku Terbuka (<em>Overt behaviour</em>), apabila respons tersebut dalam bentuk tindakan yang dapat diamati dari luar (orang lain) yang disebut praktek (<em>practice</em>)</li>
</ol>
<p>Perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori ‘S-O-R” (Stimulus-Organisme-Respons). Berdasarkan batasan dari Skinner tersebut, maka dapat didefinisikan bahwa  perilaku adalah kegiatan  atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka pemenuhan keinginan, kehendak, kebutuhan, nafsu, dan sebagainya. Kegiatan ini mencakup :</p>
<ol>
<li>Kegiatan kognitif: pengamatan, perhatian, berfikir yang disebut Pengetahuan</li>
<li>Kegiatan emosi: merasakan, menilai yang disebut Sikap (afeksi)</li>
<li>Kegiatan  konasi: keinginan, kehendak   yang disebut tindakan (practice)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perilaku kesehatan</strong> adalah suatu repson seseorang (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Dalam konteks pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan dibagi menjadi dua: 1) Perilaku masyarakat yang dilayani atau menerima pelayanan (<em>consumer</em>), Perilaku pemberi pelayanan atau petugas kesehatan yang melayani (<em>provider</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perilaku kesehatan masyarakat</strong> (<em>consumer</em>) adalah perilaku  individu, kelompok atau masyarakat yang terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Kegiatan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ini meliputi kegiatan :</p>
<ol>
<li>Mencegah dari sakit dan kecelakaan (<em>preventif</em>).</li>
<li>Meningkatkan derajat kesehatannya (<em>promotif</em>)</li>
<li>Bila sakit berupaya untuk memperoleh kesembuhan (<em>kuratif</em>)</li>
<li>Bila telah sembuh berupaya untuk memulihkan (<em>rehabilitatif</em>)</li>
</ol>
<p>Dimensi Perilaku kesehatan dibagi menjadi dua:</p>
<ol>
<li><em>Healthy Behavior</em> yaitu perilaku orang sehat  untuk mencegah  penyakit dan meningkatkan kesehatan. Disebut juga perilaku preventif (Tindakan atau upaya  untuk mencegah dari sakit dan masalah kesehatan yang lain: kecelakaan) dan promotif (Tindakan atau kegiatan untuk memelihara dan meningkatkannya kesehatannya). Contoh : 1) Makan dengan gizi seimbang, 2) Olah raga/kegiatan fisik secara teratur, 3) Tidak mengkonsumsi  makanan/minuman yang mengandung zat  adiktif , 4) Istirahat cukup, 5) Rekreasi /mengendalikan stress.</li>
<li><em>Health Seeking Behavior</em> yaitu perilaku orang sakit untuk memperoleh kesembuhan  dan pemulihan kesehatannya. Disebut juga perilaku kuratif dan rehabilitative yang mencakup kegiatan: 1) Mengenali gejala penyakit , 2) Upaya memperoleh kesembuhan dan pemulihan yaitu dengan mengobati sendiri atau mencari pelayanan (tradisional, profesional), 3) Patuh terhadap proses penyembuhan dan pemulihan (<em>complientce</em>) atau kepatuhan</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>METODE PENELITIAN PERILAKU </strong></p>
<p><strong>Penelitian (Riset) </strong>adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip (Webster). Menurut Hillway, penelitian adalah suatu metoda studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan hati-hati dan sempurna terhadap masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (<em>inquiry</em>) secara sistematis dengan penekanan dilakukan terhadap masalah yang dirasakan. Penelitian adalah suatu proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau “kebenaran ilmiah” (<em>truth</em>).  Secara garis besar tahap/langkah penelitian adalah :</p>
<ol>
<li>Persiapan (mengembangkan proposal penelitian)</li>
<li>Pelaksanaan Penelitian (Pengumpulan Data)</li>
<li>Pengolahan dan Analisis Data</li>
<li>Pelaporan hasil penelitian (Penyajian)</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Metode penelitian perilaku</strong> merupakan penerapan metode penelitian dalam perilaku kesehatan. Penelitian perilaku ini lebih spesifik karena subyek dan obyeknya adalah perilaku manusia yang sulit untuk diukur secara langsung. Perilaku manusia juga bersifat dinamis</p>
<p>Metode penelitian perilaku kesehatan dibagi menjadi dua:<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>1.  Metode Penelitian Survai</strong>, yaitu suatu penyelidikan dimana informasi didapatkan tanpa melakukan ekperimen atau percobaan terlebih dahulu. Penelitian survai ini dibedakan menjadi dua :</p>
<ul>
<li>Survai deskriptif, dilakukan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan fenomena atau karakteristik suatu populasi</li>
<li>Survai analitik, dilakukan untuk mencari penjelasan hubungan antara  fenomena-fenomena yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Ada tiga pendekatan:</li>
</ul>
<blockquote>
<ul>
<li>Survai potong lintang (<em>Cross sectional</em>), dimana Kausa (sebab) atau pengaruh dan akibat atau yang dipengaruhi diukur secara serentak. Pengukuran variabel independent (bebas) dan dependent (terikat) dilakukan pada titik waktu yang sama.</li>
<li>Retrospektif, merupakan tinjauan kebelakang yang dimulai dengan akibat (variable dependent) dan berjalan mundur ke kausa yang diduga sebagai sebab. Kelompok (orang-orang) yang menderita penyakit (masalah kesehatan=kasus) dibandingkan dengan kelompok pembanding (kontrol), untuk menentukan apakah mereka berbeda dalam pemaparan mereka terhadap faktor penyebab (risiko). Retrospektif juga disebut studi kasus kontrol (<em>case control study</em>)</li>
<li>Prospektif, dimulai  dengan penyebab, kausa atau risiko dan berjalan ke depan menuju akibat atau kasus. Kelompok (individu-individu) yang terpapar faktor risiko dan yang tidak terpapar, diikuti untuk menentukan timbulnya penyakit tertentu (akibat). Contoh: kelompok ibu hamil dengan anemia dan non anemia, diikuti sampai melahirkan. Kemudian bayinya diukur untuk membandingkan BBLR atau tidak (normal).</li>
</ul>
</blockquote>
<p><strong>2. </strong><strong>Metode Penelitian Eksperimen</strong>, yaitu suatu penelitian dengan melakukan percobaan terlebih dahulu kemudian mengukur pengaruh dari percobaan tersebut. Peneliti melakukan intervensi atau percobaan terhadap variabel, untuk mengetahui perubahan variabel tersebut.</p>
<p>Pengukuran perilaku kesehatan dilakukan pada ketiga  domain perilaku kesehatan yaitu:</p>
<p>1.       <strong>Pengetahuan</strong>, yaitu “Apa yang diketahui oleh responden terkait dengan kesehatan.” Misalnya tentang penyakit (penyebab, cara penularan, cara pencegahan), gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan, dsb. Pengukuran pengetahuan bersifat “<strong>memory recall</strong>” (apa yang diingat oleh responden tentang pesan-pesan atau informasi kesehatan, <strong>bukan</strong> apa pendapat responden. Namun demikian apa yang diingat atau diketahui oleh responden sulit dibedakan dengan pendapat responden. Metode penelitian dan pengukuran pengetahuan dibedakan menjadi:</p>
<p><strong>a.    Kuantitatif:</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">1) Wawancara terstruktur</p>
<p style="padding-left: 30px;">2) Angket</p>
<p><strong>b.    Kualitatif:</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;">1) Wawancara terbuka (mendalam)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2) Diskusi Kelompok Terfokus (DKT)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.       <strong>Sikap</strong>, yaitu “Apa pendapat atau penilaian responden terhadap hal yang terkait dengan kesehatan.” Pengukuran sikap dirumuskan dalam bentuk pernyataan. Pernyataan haruslah sependek mungkin, kurang lebih dua puluh kata. Bahasa yang digunakan juga sederhana dan jelas. Tiap satu pernyataan hanya memiliki satu pemikiran saja. Tidak menggunakan negatif rangkap. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a. Sikap merupakan tingkatan afeksi yang positif atau negatif  yang dihubungkan  dengan  obyek (Thurstone).</p>
<p style="padding-left: 30px;">b. Sikap dilihat dari individu yang menghubungkan efek yang  positif dengan obyek (individu menyenangi obyek atau negatif  atau tidak menyenangi obyek.(Edward)</p>
<p style="padding-left: 30px;">c. Sikap merupakan penilaian dan atau pendapat individu terhadap obyek :</p>
<p style="padding-left: 60px;">1)      Setuju, tak setuju</p>
<p style="padding-left: 60px;">2)      Baik, tak baik</p>
<p style="padding-left: 60px;">3)      Menerima, tak menerima</p>
<p style="padding-left: 60px;">4)      Senang, tak senang</p>
<p style="padding-left: 30px;">d.      Pendapat atau penilaian dinyatakan dalam bentuk pernyataan menggunakan  skala Likert,</p>
<p style="padding-left: 60px;">Misalnya:     Sangat setuju &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&gt; sangat tak setuju</p>
<p style="padding-left: 120px;">   Baik sekali &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;&gt; sangat tidak baik</p>
<p style="padding-left: 120px;">   Sangat menerima &#8212;&#8212;&#8211;&gt; sangat menolak</p>
<p>Metode pengukuran sikap dilakukan dengan :</p>
<p>a.       Wawancara</p>
<p style="padding-left: 30px;">1)      <em>Guided </em>(wawancara tertutup/terpimpin)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2)      <em>Unguided</em> (wawancara terbuka)</p>
<p>b.      Self administered (Angket):</p>
<p style="padding-left: 30px;">1)      <em>Guided</em> (tertutup/terpimpin)</p>
<p style="padding-left: 30px;">2)      <em>Unguided</em> (terbuka)</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p>3.       <strong>Praktek (tindakan)</strong>, yaitu “Apa yang dilakukan oleh responden terhadap hal yang terkait dengan kesehatan (pecegahan penyakit, cara peningkatan kesehatan, cara memperoleh pengobatan yang tepat, dsb).” Pengukuran praktek (tindakan) adalah mengukur praktek, tindakan, atau kegiatan yang dilakukan oleh responden tentang hal-hal yang terkait dengan pemeliharaan atau peningkatan kesehatannya, misalnya:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a. Makan, minum, mandi, buang air besar</p>
<p style="padding-left: 30px;">b. Berolah raga</p>
<p style="padding-left: 30px;">c. Upaya-upaya mencegah penyakit</p>
<p style="padding-left: 30px;">d. Mencari penyembuhan waktu sakit, dsb.</p>
<p>Pengukuran praktek dilakukan dengan metode:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a. Langsung , dengan observasi atau mengamati terhadap perilaku sasaran (respoden), dengan menggunakan lembar tilik (check list)</p>
<p style="padding-left: 30px;">b. Tidak langsung</p>
<p style="padding-left: 60px;">1) Metode “recall” atau mengingat kembali terhadap apa yang telah  dilakukan responden.</p>
<p style="padding-left: 60px;">2) Melalui orang ketiga (orang) lain yang “dekat” dengan responden yang ditelitii.</p>
<p style="padding-left: 60px;">3) Melalui “indikator” (hasil perilaku) responden, perilaku personal hygiene diukur dari kebersihan kuku, rambut, kulit, dsb.</p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="background-color: #cc99ff;"> </span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="background-color: #cc99ff;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">Artikel di atas adalah rangkuman dari Kuliah Umum yang disampaikan oleh :  </span></span></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="background-color: #cc99ff;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;"><strong><a href="administrator/index.php?option=com_content&amp;sectionid=1&amp;task=edit&amp;cid[]=95">Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo</a>, </strong><em>Guru Besar Emeritus Departemen Pendidikan dan Ilmu PerilakuFakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia</em></span></span></span></p>
<p style="text-align: left;"><span style="background-color: #cc99ff;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-family: comic sans ms,sans-serif;">pada hari Sabtu tanggal 23 Januari 2011 di STIKes Dharma Husada Bandung</span></span></span><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Praktikum Pencegahan Infeksi Pada Mata Kuliah Mikrobiologi</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/kuliah-mikrobiologi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 02:07:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Praktikum Pencegahan Infeksi Pada Mata Kuliah Mikrobiologi]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=143</guid>

					<description><![CDATA[Mikroorganisme adalah agen penyebab infeksi, dapat berupa bakteri, virus, fungi dan parasit. Untuk tujuan pencegahan infeksi, bakteri dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu vegetatif, mikobakteria dan endospora. Dari semua agen infeksi yang umum, endosporalah yang paling sulit dibunuh disebabkan oleh lapisan pelindungnya. Pencegahan infeksi umumnya bergantung pada penempatan pembatas antara orang yang rentan (orang yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mikroorganisme adalah agen penyebab infeksi, dapat berupa bakteri, virus, fungi dan parasit. Untuk tujuan pencegahan infeksi, bakteri dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu vegetatif, mikobakteria dan endospora. Dari semua agen infeksi yang umum, endosporalah yang paling sulit dibunuh disebabkan oleh lapisan pelindungnya.</p>
<p>Pencegahan infeksi umumnya bergantung pada penempatan pembatas antara orang yang rentan (orang yang kurang mendapat perlindungan alamiah atau dieproleh) dan mikroorganisme. Pembatas pelindung adalah proses-proses fisikal, mekanikal atau kimiawi yang dapat membantu mencegah penyebaran mikroorganisme infeksi dari orang ke orang dan/atau peralatan, instrumen dan permukaan lingkungan sekitar manusia.</p>
<p>Petugas pelayanan kesehatan seperti bidan berisiko terpapar infeksi yang secara potensial membahayakan jiwa. Sebagai contoh, di Amerika lebih dari 800.000 luka karena tertusuk jarum suntik terjadi setiap tahun walaupun telah dilakukan pendidikan berkelanjutan dan upaya pencegahan kecelakaan tersebut. Di banyak negara berkembang, risiko perlukaan karena jarum suntik dan paparan terhadap darah dan duh tubuh jauh lebih tinggi.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/prakikum%20pencegahan%20infeksi%201.jpg" width="174" height="237" title="Praktikum Pencegahan Infeksi Pada Mata Kuliah Mikrobiologi" alt="prakikum%20pencegahan%20infeksi%201 Praktikum Pencegahan Infeksi Pada Mata Kuliah Mikrobiologi STIKes"/> <img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/prakikum%20pencegahan%20infeksi%202.jpg" width="314" height="238" title="Praktikum Pencegahan Infeksi Pada Mata Kuliah Mikrobiologi" alt="prakikum%20pencegahan%20infeksi%202 Praktikum Pencegahan Infeksi Pada Mata Kuliah Mikrobiologi STIKes"/></p>
<p>Salah satu kompetensi yang harus dicapai oleh mahasiswa D3 Kebidanan pada mata kuliah Mikrobiologi adalah memahami pedoman pencegahan infeksi yaitu: mencuci tangan, menggunakan sarung tangan dan alat pelindung lainnya, memroses alat bekas pakai dan menangani peralatan tajam dengan aman. Adapun prktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut:</p>
<p>1.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mencuci tangan</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8211; Mendemonstrasikan cara mencuci tangan yang benar dengan 7 langkah cuci tangan</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8211; Mendemonstrasikan cara membuat cairan yang dapat digunakan sebagai alternatif pencuci tangan yaitu mencampurkan 100 cc alkohol 70% dengan 2 cc gliserin.</p>
<p>2.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menggunakan sarung tangan/ APD (Alat Pelindung Diri)</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8211;&nbsp; Mendemonstrasikan cara menggunakan sarung tangan dan alat pelindung lainnya (penutup rambut/kepala, masker, kacamata google, apron/celemek dan sarung kaki</p>
<p>3.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memproses alat bekas pakai</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8211; Mendemonstrasikan cara mencuci&nbsp; alat bekas</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &#8211; Mendemonstrasikan cara sterilisasi dan DTT (Dekontaminasi Tingkat Tinggi)</p>
<p>4.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menangani peralatan tajam dengan aman</p>
<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mendemonstrasikan cara menggunakan jarum suntik agar tangan tidak terkena suntikan atau darah</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/skrining-kanker-serviks/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 09:13:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=138</guid>

					<description><![CDATA[Tujuan Skrining Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan   PENDAHULUAN A.&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Kanker Serviks di Dunia Kanker serviks merupakan kanker yang banyak menyerang perempuan dan saat ini, menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita dinegara berkembang . Data Badan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tujuan Skrining</strong></p>
<p>Untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan</p>
<p> </p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>A.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kanker Serviks di Dunia</strong></p>
<p>Kanker serviks merupakan kanker yang banyak menyerang perempuan dan saat ini, menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk wanita dinegara berkembang . Data Badan Kesehatan Dunia terdapat 493.243 jiwa/tahun dengan angka kematian 273.505 karena kanker serviks.</p>
<p><strong>B.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Kanker Serviks di Indonesia</strong></p>
<p>Menduduki urutan ke dua penyebab kematian wanita di Indonesia Angka kejadian 15,7 per 100.000. Diperkirakan 15.000 kasus setiap tahunnya sedangkan Angka kematiannya diperkirakan 7.500 kasus pertahun</p>
<p><strong>Apa Tanda Gejala Kanker Serviks ?</strong></p>
<p><strong><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/kanker%20serviks%201.jpg" width="228" height="221" title="Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test" alt="kanker%20serviks%201 Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test STIKes"/><br /></strong></p>
<ol start="1">
<li><em>Tahap awal tanpa      gejala,tidak sakit</em></li>
<li><em>Tahap lanjut :</em><br /> a. Keputihan yang berbau<br /> b. Pendarahan dari liang senggama<br /> c. Pendarahan setelah senggama<br /> d. Nyeri panggul<br /> e. Pendarahan pasca menopause</li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>Yang termasuk Faktor Risiko Kanker Serviks</strong></p>
<ol start="1">
<li>Hubungan seksual      pada usia muda</li>
<li>Berganti-ganti      pasangan seksual</li>
<li>Kurang menjaga      kebersihan daerah kelamin</li>
<li> Sering menderita infeksi daerah kelamin</li>
<li>Anak lebih dari tiga</li>
<li>Kebiasaan merokok</li>
<li>Infeksi virus Herpes      dan Human Papilloma&nbsp; Virus tipe      tertentu</li>
</ol>
<p><img loading="lazy" decoding="async" style="float: left;" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/kanker%20serviks%202.jpg" width="196" height="212" title="Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test" alt="kanker%20serviks%202 Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test STIKes"/></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong>Apa Itu Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test ?<br /></strong></p>
<p><strong><em>IVA </em></strong>adalah pemeriksaan skrining kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan aplikasi asam asetat (IVA). Dengan metode inspeksi visual</p>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong>BEBERAPA KEUNTUNGAN IVA (INSPEKSI VISUAL DENGAN APLIKASI ASAM ASETAT)</strong></p>
<ol start="1">
<li>Mudah, praktis,      mampu laksana</li>
<li>Dapat dilaksanakan      oleh seluruh tenaga kesehatan</li>
<li>Alat-alat yang      dibutuhkan sederhana</li>
<li>Sesuai untuk pusat      pelayanan sederhana</li>
</ol>
<p>(Nugroho Taufan, dr. 2010:65)</p>
<ol start="5">
<li>Kinerja tes sama      dengan tes lain</li>
<li>Memberikan hasil      segera sehingga dapat diambil keputusan mengenai penatalaksanaannya</li>
</ol>
<p>(Emilia Ova, dr. 2010 :53)</p>
<p> </p>
<p><strong>SYARAT DILAKUKANNYA IVA TEST</strong></p>
<ol start="1">
<li>Sudah melakukan      hubungan seksual</li>
<li>Tidak sedang datang      bulan/haid</li>
<li>Tidak sedang hamil</li>
<li>24 jam sebelumnya      tidak melakukan hubungan seksual</li>
</ol>
<p><strong><br /></strong></p>
<p><strong>BAGAIMANA PELAKSANAAN SKRINING IVA?</strong></p>
<ol start="1">
<li>Ruangan tertutup</li>
<li>Meja Periksa      ginekologis</li>
<li>Sumber cahaya yang      cukup untuk melihat serviks</li>
<li>Spekulum vagina Asam      asetat (3-5%)</li>
<li>Swab Lidi kapas</li>
<li>Sarung tangan</li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>TEKNIK IVA</strong></p>
<ol start="1">
<li>Spekulum untuk melihat      serviks yang telah dipulas dengan asam asetat 3-5%</li>
<li>Hasil (+) pada lesi      prakanker terlihat warna bercak putih disebut : <em>ACETO WHITE EPITELIUM</em></li>
<li>Tindak lanjut IVA      (+) Biopsi</li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>PROGRAM SKRINING OLEH WHO</strong></p>
<ol start="1">
<li>Skrining pada setiap      wanita minimal 1X pada usia 35-40 tahun</li>
<li>Kalau fasilitas      memungkinkan lakukan tiap 10 tahun pada usia 35-55 tahun</li>
<li>Kalau fasilitas      tersedia lebih lakukan tiap 5 tahun pada usia 35-55 tahun(Nugroho Taufan,      dr. 2010:66)</li>
<li>IDEAL DAN OPTIMAL      PEMERIKSAAN DILAKUKAN SETIAP 3 TAHUN PADA WANITA USIA 25-60 TAHUN</li>
<li> Skrining yang dilakukan sekali dalam 10      tahun atau sekali seumur hidup memiliki dampak yang cukup signifikan.</li>
</ol>
<p>Di Indonesia, anjuran untuk melakukan IVA bila :</p>
<p>hasil positif (+) adalah 1 tahun dan, bila</p>
<p>hasil negatif (-) adalah 5 tahun</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/kanker%20serviks%203.jpg" width="528" height="498" title="Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test" alt="kanker%20serviks%203 Skrining Kanker Serviks Dengan Metoda Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat (Iva) Test STIKes"/></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/peran-fiska-dalam-meningkatkan-kompetensi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 04:16:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Peran Fiska Dalam Meningkatkan Kompetensi]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=129</guid>

					<description><![CDATA[&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan indikator pencapaian, kurikulum, serta materi pokok dalam kegiatan pembelajaran, maka untuk mencapai kompetensi &#160;mahasiswa semester&#160; 1&#160; S1 Ilmu kesehatan masyarakat mengikuti kegiatan praktikum fisika yang dilaksanakan pada hari jumat, &#160;7 dan 14 Januari 2011 di Laboratorium Fakultas MIPA Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk  mengembangkan indikator pencapaian, kurikulum, serta materi pokok dalam  kegiatan pembelajaran, maka untuk mencapai kompetensi &nbsp;mahasiswa  semester&nbsp; 1&nbsp; S1 Ilmu kesehatan masyarakat mengikuti kegiatan praktikum  fisika yang dilaksanakan pada hari jumat, &nbsp;7 dan 14 Januari 2011 di  Laboratorium Fakultas MIPA Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr.  Setiabudi yang meliputi praktek Listrik, Daya Hantar, Resonansi,  Viscositas, Kalis Meter, sebagai mata kuliah dasar, fisika dasar tidak  hanya mendasari ilmu-ilmu eksakta atau melengkapi mata kuliah pokok,  tetapi juga memberikan keluasan wawasan berpikir kritis bagi mahasiswa.</div>
<p><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%201.jpg" width="202" height="134" title="Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi" alt="peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%201 Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi STIKes"/><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%202.jpg" width="201" height="134" title="Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi" alt="peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%202 Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi STIKes"/><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%203.jpg" width="200" height="133" title="Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi" alt="peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%203 Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi STIKes"/><img loading="lazy" decoding="async" src="http://stikesdhb.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%204.jpg" width="198" height="132" title="Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi" alt="peran%20fiska%20dalam%20meningkatkan%20kompetensi%204 Peran Fisika Dalam Meningkatkan Kompetensi STIKes"/></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perawatan  Mata Minus</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/perawatan-mata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 10:49:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan mata minus]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=124</guid>

					<description><![CDATA[Sampai beberapa tahun kehidupan, bola mata kita terus berkembang. Pada mata yang minus, bola mata memanjang. Sehingga untuk membantu mempertajam penglihatan diperlukan kacamata minus. Begitu juga pada mata positif. Cara kerja mata kita bagaikan lensa. Jika kita terlalu banyak memaksakan mata untuk melihat dalam keadaan gelap atau jauh maka mata akan berakomodasi terus. Semakin sering [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sampai  beberapa tahun kehidupan, bola mata kita terus berkembang. Pada mata  yang minus, bola mata memanjang. Sehingga untuk membantu mempertajam  penglihatan diperlukan kacamata minus. Begitu juga pada mata positif.  Cara kerja mata kita bagaikan lensa. Jika kita terlalu banyak memaksakan  mata untuk melihat dalam keadaan gelap atau jauh maka mata akan  berakomodasi terus. Semakin sering mata berakomodasi semakin  memperlambat kerja penglihatan. Hal itu tentu bisa menyebabkan mata  minus ataupun positif. Untuk tidak memperparah mata minus Anda,  perhatikan tips berikut ini.</p>
<p>1. Cara termudah untuk <a href="http://id.88db.com/Beauty-Salon-Clinic/Eye-Treatments/1/"></a>perawatan mata minus tak kian bertambah adalah banyak mengkonsumsi makanan yang  mengandung lutein. Lutein banyak terkandung pada sayuran berwarna hijau.  Lutein sangat diperlukan retina sebagai filter terhadap sinar biru yang  toksik terhadap makula retina mata. Selain itu ada baiknya Anda juga  mengkonsumsi makanan bervitamin A dan beta karoten seperti wortel dan  ubi. Banyak-banyaklah konsumsi sayuran, selain Anda mendapatkan  manfaatnya bagi mata baik juga untuk tubuh dan kulit kan?</p>
<p>2. Ada  beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mencegah minus pada mata  bertambah. Salah satunya adalah selalu mencek kondisi mata Anda. Kendati  Anda tak merasakan adanya masalah pada mata, tak adal salahnya sesekali  memeriksakannya ke dokter. Akan lebih mudah jika bisa diketahui lebih  dini.</p>
<p>3.  Kendalikan kondisi kesehatan yang bisa berdampak pada penglihatan.  Seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Segera tangani penyakit Anda</p>
<p>4.  Lindungi dengan kacamata. Mata minus sebaiknya selalu terlindungi dari  radiasi sinar UV. Pilih kacamata yang tepat dengan kualitas baik.  Kacamata ini akan semakin penting artinya saat Anda menghabiskan waktu  berjam-jam di depan komputer atau TV. Ataupun saat Anda tangah  mengkonsumisi obat yang meningkatkan kepekaan mata kita terhadap radiasi  sinar UV.</p>
<p>5.  Sering-sering mengistirahatkan mata Anda. Kendati hal ini tak akan  mengurangi minus pada mata Anda, setelah berjam-jam duduk di depan  komputer cobalah melihat pemandangan lain. Jangan terlalu memfokuskan  mata pada komputer terlalu lama.</p>
<p>6.  Yang tak kalah harus diperhatikan adalah penerangan yang cukup. Jangan  memaksakan diri membaca dalam gelap atau cahaya yang remang-remang.  Sebaiknya juga jangan menonton TV di malam hari dengan lampu mati.  Gunakan penerangan yang cukup untuk membantu mata Anda menguasai objek  yang ingin dilihat.</p>
<p>sumber : http://kitm.indonesianforum.net/</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Website Baru STIKes DHB</title>
		<link>https://stikesdhb.ac.id/website-baru-stikes-dhb/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 09:16:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[refraksi optisi]]></category>
		<category><![CDATA[stikes]]></category>
		<category><![CDATA[stikes dharma husada bandung]]></category>
		<category><![CDATA[stikesdhb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://stikesdhb.ac.id/?p=96</guid>

					<description><![CDATA[Kini STIKes Dharma Husada Bandung telah memiliki website resmi yang beralamatkan http://stikesdhb.ac.id . Website ini dibuat sebagai sarana informasi dan komunikasi STIKes DHB kepada masyarakat, pengumuman-pengumuman akademik dan memicu dosen-dosen membuat artikel-artikel berkualitas seputar kesehatan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kini STIKes Dharma Husada Bandung telah memiliki website resmi yang beralamatkan <a href="http://www.stikesdhb.ac.id">http://stikesdhb.ac.id</a> .</p>
<p>Website ini dibuat sebagai sarana informasi dan komunikasi STIKes DHB kepada masyarakat, pengumuman-pengumuman akademik dan memicu dosen-dosen membuat artikel-artikel berkualitas seputar kesehatan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
